Ada yang unik saat bersih desa di Desa Kedungdowo, Kecamatan Nganjuk. Desa Kedungdowo wajib ada hiburan. Tidak hanya selamatan atau mengarak hasil bumi. Hiburan tersebut adalah tayub.
“Setiap bersih desa wajib ada tayub. Mesipun ada kegiatan lain, itu juga wajib ada,” ujar Djiman, sesepuh Desa Kedungdowo. Tayub sendiri adalah kesenian tradisional yang sudah ada sejak zaman kerajaan. Penarinya sendiri didatangkan langsung dari Ngrajek, Kecamatan Tanjunganom. Tayub ini sebagai wujud rasa syukur karena hasil panennya melimpah. Sehingga, dilakukan sedekah bumi.
Bagi warga Desa Kedungdowo, tayub ini sebagai upaya sedekah bumi dan menolak bala. Karena warga di sana, mayoritas sebagai petani bawang merah.
Lalu bagaimana jika tayub diganti hiburan yang lain? Djiman menceritakan, hal itu pernah dilakukan. Saat itu, Kepala Desa Kedungdowo mencoba mengganti hiburan tayub saat bersih dengan jaranan. Karena saat itu, jaranan sedang ngetren.
Tiba-tiba, warga Desa Kedungdowo mengalami kesurupan. Kondisi desa menjadi kurang kondusif. Setelah menelusuri penyebabnya adalah mengganti tradisi desa, warga meminta bersih desa diulang. Tayub kembali dilakukan. Hasilnya, warga tidak lagi mengalami kesurupan. Sehingga, sampai sekarang, warga sepakat menggelar tayub setiap bersih desa.
Untuk penari tayub ini akan menari pagi hingga sore hari. Perangkat desa juga akan diajak menari. “Biasanya mereka akan memberi saweran ke penari jika mau menari,” ujar Djiman. (nov/tyo)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira