Setiap desa di Kota Angin tak hanya memiliki nama yang unik. Melainkan juga memiliki cara dan khas masing-masing saat merayakan bersih desa.
Masyarakat biasa menyebutnya nyadran. Seperti di Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon. Di sana, wajib ada tayub.
“Tayub Jandrung wajib ada saat nyadran di Tanjungtani,” ujar Al Muktarom, 58, juru kunci petilasan Mbah Deling. Namun, sebelum digelar hiburan. Terlebih dahulu warga mengadakan serangkaian acara nyadran yang lain.
Seperti, tahlilan, pengajian hingga berdoa bersama di tempat petilasan Mbah Deling atau Mbah Nyai Plencing. Pelaksanaannya pada bulan Sura. Harinya adalah Jumat Pahing.
“Sebelumnya gandrung dibunyikan itu harus diawali dengan gending kolo ganjur,” ujar Al Muktarom. Gending kolo ganjur sendiri adalah komposisi musik karawitan yang menandakan dimulainya acara.
Dulu, pernah ada kejadian aneh saat tayub tidak digelar saat bersih desa. Saat itu ada yang berinisiatif untuk mengganti kesenian Tayub dengan kesenian lain.
Namun hal tersebut berimbas pada warga sekitar. “Efeknya warga Tanjungtani ada yang kesurupan,” ujarnya.
Dengan kejadian tersebut, akhirnya warga sepakat untuk mengadakan bersih desa kembali. Sejak saat itu, setiap ada bersih desa selalu diwajibkan adanya tayub.
Menurut Al Mukarom, zaman dahulu pada saat bersih desa selalu ada masyarakat luar kota yang hadir. Namun saat ini hanya masyarakat sekitar saja. “Tergerus oleh zaman sekarang,” tandasnya. (nov/tyo)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira