SELAIN tradisi ziarah kubur, masyarakat Kabupaten Nganjuk juga mengenal tradisi megengan. Acara ini digelar untuk mengingatkan masyarakat akan datangnya bulan Ramadan.
Megengan masih menjadi tradisi yang rutin dilakukan masyarakat Jawa. Megengan juga menjadi suatu pengingat bahwa bulan Ramadan akan segera tiba.
Tradisi megengan biasanya dilakukan dalam beberapa kegiatan. Yakni berdoa di masjid, membuat kue khas megengan atau berkirim makanan kepada tetangga.
“Megengan itu juga pengaruh ajaran dari terutama dari walisongo sunan kali jogo,” kata Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk Sri Handariningsih melalui Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Amin Fuadi kepada wartawan koran ini.
Megengan sendiri memiliki kaitan dengan kue apem. Menurut Amin, apem dari kata afun atau afwan bahasa arab yang artinya maaf. Sehingga dalam tradisi megengan selalu ada kue apem.
“Maka pembuatan apem itu sebagai perlambangan aja, simbolik dari permintaan maaf,” ujarnya.
Lebih lanjut Amin mengungkapkan, makna megengan sendiri juga saling berbagi antar sesama.
Simbol tersebut tampak dari pembuatan nasi berkat yang nantinya akan dibagi kepada masyarakat sekitar.
Tradisi ini menjadi kegiatan ungkap rasa syukur karena masih mendapat kesempatan bertemu dengan bulan Ramadan. (nov/wib)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira