JP Radar Nganjuk - Kearifan lokal berupa budaya, petuah dan anjuran masih banyak diikuti masyarakat. Termasuk di wilayah Jawa.
Namun banyak juga yang apatis terhadap mitos-mitos lokal. Seperti mitos larangan warga Cepu, Blora dan Bojonegoro agar tidak mendaki Gunung Lawu.
Jika dirunut sejarahnya, hal ini sudah terjadi sejak lama, tepatnya saat Kerajaan Majapahit masih berkuasa di Bumi Nusantara.
Hal itu bermula dari satu sumpah Raja Brawijaya V, raja terakhir dan juga tokoh penting dalam sejarah Majapahit.
Sumpah tersebut berbunyi sebuah larangan sekaligus ancaman yang menyebutkan agar para keturunan Adipati Cepu (secara luas dapat diartikan sebagai rakyat Cepu, Blora dan Bojonegoro) agar tidak mendaki Gunung Lawu.
Larangan tersebut bermuara awalnya karena pengkhianatan yang dilakukan Adipati Cepu terhadap Raja Brawijaya.
Dalam pengejaran yang dilakukan oleh Adipati Cepu, Raja Brawijaya dan sisa-sisa pasukannya mengasingkan diri ke Gunung Lawu yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Raja Brawijaya melakukan moksa dan bertibggal di salah satu bagian Gunung Lawu yang bernama Hargo Dalem.
Di akhir masa kepemimpinan serta kerajaannya yang sudah berada di ujung tanduk.
Raja Brawijaya V kemudian melakukan sumpah diatas puncak gunung yang mengutuk Adipati Cepu beserta keturunannya akan celaka saat mendaki Gunung Lawu.
Raja terakhir Majapahit ini bahkan menjamin bahwa para keturunan Adipati Cepu yang berani menginjakkan kakinya di Gunung Lawu akan bernasib sial, bahkan celaka di tempat.
Namun, larangan tersebut kini mulai terpatahkan dengan banyaknya warga dari daerah Bojonegoro yang diketahui telah mendaki Gunung Lawu dengan selamat.
Sedangkan di bagian wilayah lainnya yakni Cepu dan Blora, masyarakat lokal masih banyak yang melarang anak-anak keturunan mereka untuk mendaki Gunung Lawu.
Kebanyakan dari masyarakat Cepu masih menganggap kutukan Brawijaya V atau kerap disebut sebagai Bhre Wirabumi ini masih ada dan mampu mencelakai keturunan dari Adipati Cepu.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira