JP Radar Nganjuk - Tidak sedikit penemu yang namanya termasyhur dan abadi dalam sejarah.
Namun, ada juga yang menemui ajal akibat barang ciptaannya sendiri.
Salah satunya adalah Henry Winstanley. Pelukis dan pengukir yang menaruh minat pada peralatan mekanik dan hidrolik.
Rumah Henry dan Jane Winstanley dikenal sebagai Rumah Ajaib Essex ("Essex House of Wonders") di Inggris.
Ada banyak atraksi yang mengejutkan tamunya. Misalnya kursi yang terlihat nyaman.
Tetapi ketika ada yang duduk di sana, kursi itu akan "memeluk" nya.
Ada juga gerobak teh dengan camilan manis yang secara ajaib melayang dari langit-langit.
Pada 1690-an, Henry membuka Teater Air Matematika ("Mathematical Water Theatre") di London yang dipenuhi atraksi buatannya.
Popularitas Winstanley memungkinkannya berinvestasi perahu. Namun 2 kapalnya karam di bebatuan Eddystone.
Itu di lepas pantai barat daya Inggris. Henry pun menyadari daerah itu sering menyebabkan kapal karam dan merenggut nyawa banyak pelaut selama berabad-abad.
Karena itu ia merancang mercusuar dibangun di sana. Awalnya sulit meyakinkan pihak berwenang.
Sebab Mercusuar belum pernah dibangun di laut lepas, apalagi di atas bebatuan yang tertutup air saat pasang.
Pembangunan mercusuar akhirnya dimulai pada 1696. Kala itu, Winstanley sempat diculik bajak laut Prancis.
Namun kemudian dibebaskan. Ia pun melanjutkan pekerjaannya.
Pada 1698, Henry menyalakan 60 lampu di menara setinggi 27 meter.
Saat itulah Winstanley menyadari mercusuar berderit terkena angin kencang dan tidak terlihat ketika ombak sangat besar.
Dia lantas mendesain ulang struktur mercusuar, memperkuat dindingnya, dan menambah tingginya menjadi 40 meter.
Merasa mercusuar aman, Winstanley menyatakan akan bermalam di sana saat badai besar.
Pada 1703, badai terparah dalam sejarah Inggris melanda. Kecepatan angin mencapai 190 kilometer per jam dan menewaskan sekitar 15.000 orang, baik di laut maupun di darat.
Winstanley tak sabar melihat mercusuarnya, apakah mampu melewati ujian berat tersebut.
Pada 27 November, saat badai sedikit mereda Henry pun mengunjungi mercusuarnya. Ia senang mercusuarnya masih kokoh.
Kepada temannya, dia mengatakan akan bermalam di sana.
Tak disangka malam itu, angin bertiup lebih kencang, menghancurkan seluruh mercusuar dan Winstanley.
Meski begitu, karya Henry tidak sia-sia. Selama lima tahun beroperasi, tidak ada kapal karam di daerah tersebut.
Itu berkat mercusuar Winstanley. Hingga kini masih ada mercusuar di bebatuan Eddystone.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira