JP Radar Nganjuk- Di balik lemah gemulai dan lembutnya tari tayub tersimpan misteri magis. Demi menjadi tokoh utamanya yang disebut waranggana (wanita yang menari dan melantunkan tembang Jawa) tak semudah dibayangkan orang awam. Berbagai ritual harus dijalankan.
Bahkan ada upacara yang mengharuskan para calon penari mengikat janji dengan alam gaib. Namun mereka mungkin tak mengerti akan semua ucap sumpah lewat mantra dan gerak tari persembahan untuk para arwah.
Sebab, terkadang desakan ekonomi membuat para calon penari tak peduli.
Ritual yang harus dijalani para calon penari tayub adalah prosesi Gembayangan. Warga setempat menyebutnya wisuda waranggono.
Tempat pendadarannya di padepokan dan punden keramat Dusun Ngrajek, Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Di sana setiap tahunnya dijadikan tempat meluluskan waranggono.
Baca Juga: Tari Tayub Blitaran Dipentaskan dalam Ritual Adat Siraman Gong Kyai Pradah
Tahap pertama prosesi wisuda adalah amek tirto atau pengambilan air suci di air terjun bernama Sedudo. Jaraknya sekitar 30 kilometer arah selatan Ngrajek.
Untuk menjalani tahap ini, para calon waranggono harus mampu menari minimal 10 gending tarian. Pada tahapan ini, mereka dipapah menemui juru kunci Sedudo untuk menyerahkan sesajen sekaligus meminta restu.
Setelah meyakini dapat restu, calon waranggono harus menari di air terjun berketinggian 137 meter sebagai tanda penghormatan. Kemudian, pengambilan air suci dilaksanakan melalui perantara Sedudo.
Air dimasukkan wadah yang disebut klenteng. Lalu, diserahkan ke sesepuh seni tayub untuk dipercikkan ke kepala mereka. Sejak saat itu, para gadis tadi resmi menjadi waranggono.
Menjadi waranggono tak cuma bermodalkan paras cantik. Kepiawaian menari dan melantunkan tembang Jawa menjadi modal penting menjadi waranggono profesional. Mereka dituntut mampu menghibur dengan lagu-lagu yang memikat serta tarian yang memesona.
Baca Juga: Pantangan Bangun Rumah Hadap Utara untuk Menghindari Malapetaka
Padepokan Ngrajek ditandai dengan pintu masuk desa berupa gapura bertuliskan Bang Punden Ngrajek. Itu merupakan simbol sebuah punden berupa sumur bernama Mbah Ageng.
Gapura tersebut juga simbol keberadaan padepokan Langen Tayub yang merupakan markasnya para penari tayub di Nganjuk.
Setiap hari, warga Ngrajek beraktivitas seperti masyarakat biasa. Tidak terlihat sebagai pusat kesenian tayub di Nganjuk. Para waranggono umumnya memiliki aktivitas lain. Ada yang bekerja, berdagang dan ibu rumah tangga.
Namun pada Jumat Pahing bulan Zulhijah atau bulan besar dalam penanggalan Jawa, waranggono akan tampil. Suasana desa pun berubah ramai. Masyarakat kota lain pun datang untuk melihat kemahiran waranggono di atas panggung.
Tayub adalah tari pergaulan. Tetapi dalam perwujudannya bisa bersifat romantis dan erotis. Dalam pertunjukan, para tamu mendapat persembahan sampur (selendang) dari waranggono. Tamu itu kemudian menari berpasangan dengannya, seirama iringan gamelan, sesuai tembang yang dipesan.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira