NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Sebagian masyarakat Jawa menggelar tradisi bernama Colok-Colok Malam 29. Tradisi ini dilakukan pada akhir bulan Ramadan, tepatnya malam ke 29.
Tradisi ini berlangsung sederhana. Yaitu membuat kobaran api kecil kemudian ditancapkan di halaman rumah.
Api yang dibuat tidak harus besar. Hanya sebesar potongan balok kayu ukuran 4 cm persegi.
Atau membuat obor kecil dari bambu. Maupun benda yang bisa sebagai perantara kobaran api.
Api tersebut kemudian ditancapkan di depan rumah. Proses ini kemudian dinamakan colok-colok.
Sedangkan saat membuatnya yaitu pada malam sembilan atau songo pada 10 hari akhir Ramadan. Sehingga masyarakat menamakan Colok-Colok Malam 29.
Di balik kesederhanaan tradisi ini, ternyata menyimpan makna yang dalam. Masyarakat meyakini ada keberkahan yang turun pada malam itu.
Hal ini tidak lepas dari keyakinan tibanya malam Lailatul Qadar pada salah satu malam ganjil di akhir Ramadan.
Kemudian, masyarakat juga meyakini pada malam itu, leluhur atau kerabat yang sudah meninggal dunia arwahnya akan kembali pulang ke rumah.
Melalui perantara api dan asap tersebut, masyarakat berharap keberkahan akan selalu menyala dan terbang tinggi.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira