NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Ratusan masyarakat Kabupaten Nganjuk memadati Pura Kerta Bhuwara Giri Wilis kemarin siang (28/3).
Mereka ingin menyaksikan upacara Tawur Agung Kesanga dan kirab ogoh-ogoh.
“Upacara Tawur Agung Kesanga dan kirap ogoh-ogoh adalah ritual yang wajib dilakukan sebelum Nyepi,” terang Nyuwito, Ketua Panitia Hari Raya Nyepi Pura Kerta Bhuwara Giri Wilis kepada wartawan koran ini.
Dari pantauan wartawan koran ini, upacara Tawur Agung Kesanga dan kirab ogoh-ogoh dimulai dari Pura Kerta Bhuwara Giri Wilis.
Rutenya adalah dari pura menuju Monumen Panglima Besar (PB) Sudirman di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret.
Total jarak yang ditempuh adalah 1 kilometer (km).
Sesampainya di monumen, ratusan umat Hindu di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret itu lalu melakukan sembahyang.
Selang beberapa menit, tiga ogoh-ogoh yang telah dikirab itu lalu dibakar. Lokasi pembakaran ogoh-ogoh itu berada di sungai sebelah barat monumen.
Setelah dibakar, ogoh-ogoh itu lalu dilarung ke sungai. Dengan maksud untuk membakar dan membuang energi negatif yang ada di alam.
Pria berusia 44 tahun itu mengatakan, kirab ogoh-ogoh memiliki filosofi.
Yaitu ogoh-ogoh yang diibaratkan sebagai media penyerapan hal-hal negatif di alam.
Baca Juga: Prediksi Skor Venezia vs Bologna 29 Maret 2025, Duel Penting di Serie A
Selama dikirap, umat Hindu percaya ogoh-ogoh itu akan menyerap hal negatif. Saat dibakar, artinya hal-hal negatif itu akan hilang.
“Dengan energi negatif dibakar, artinya kami siap melakukan Nyepi,” tambahnya.
Lebih lanjut Nyuwito mengatakan, sesuai jadwal, hari ini (29/3), umat Hindu di Kabupaten Nganjuk akan melaksanakan Catur Brata Penyepian.
Dimulai pada pukul 06.00 WIB. Proses penyepian itu berlangsung selama 24 jam.
Lalu, keesokan harinya dilanjutkan dengan upacara Ngepak Geni.
Kegiatan itu juga berlangsung di Pura Kerta Bhuwara Giri Wilis.
Sementara itu, Anik Wirawati, 43, salah satu penonton mengaku senang dengan kegiatan pawai ogoh-ogoh.
Bahkan perempuan asal Desa Candirejo, Kecamatan Loceret itu rela jauh-jauh untuk menyaksikan acara yang hanya berlangsung satu kali dalam satu tahun itu.
“Ini tadi sama tetangga sengaja datang karena ingin lihat ogoh-ogoh,” ujarnya. (wib/tyo)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira