Berita Seputar Nganjuk Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya

Bikin Suasana Guyub Rukun, Tari Tayub Jadi Sarana Ritual Ungkap Rasa Syukur

Endro Purwito • Rabu, 2 April 2025 - 16:45 WIB
Photo
Photo

JP Radar Nganjuk- Seni tari tayub di Kabupaten Nganjuk sudah banyak dikenal masyarakat. Tarian tradisional ini digelar sebagai sarana ritual untuk mengungkapkan rasa syukur. Kemudian berkembang menjadi seni pertunjukan untuk hiburan rakyat. Biasanya dipertunjukkan dalam kegiatan masyarakat, seperti upacara selamatan, perkawinan, khitanan, dan bersih desa.

   Tokoh utama dalam tari tayub terdiri atas waranggana atau penggambyong (perempuan yang menari dan melantunkan tembang Jawa). Lalu, pengibing (tamu undangan pria yang menari bersama waranggana). Selain itu, ada pramugari (laki-laki yang bertugas mengatur jalannya pertunjukan tari). Terakhir, pengrawit (sekelompok pria yang  memainkan gamelan mengiringi penari).

   Berdasarkan sejarah, tayub lahir sebagai tarian rakyat pada abad ke XI. Saat itu, Raja Kediri berkenan mengangkatnya ke puri keraton dan membakukannya sebagai tari penyambutan tamu. Tayub ditampilkan dalam acara penobatan Prabu Suryowiseso sebagai Raja Jenggala, Jawa Timur pada abad XII.

    Keraton Jenggala kemudian menetapkan tayub sebagai tari adat kerajaan dan mewajibkan permaisuri raja menari ngigel (goyang) di pringgitan untuk menjemput kedatangan raja.

   Dari versi lain, ada yang meyakini Tari Tayub sudah berkembang sejak zaman Sunan Kalijaga. Awalnya, digunakan untuk ritual mengungkapkan rasa syukur kepada Dewi Sri, dewi kesuburan dalam mitologi masyarakat Nganjuk.

Baca Juga: Sudah Tahu Belum? Penari Tayub Harus Ikut Wisuda dan Jalani Ritual Mistis

Dengan pertunjukan ini, petani berharap memperoleh hasil panen yang melimpah. Masyarakat percaya jika waranggana menari di rumah mereka, maka tanah sawahnya akan subur.

  Secara epistemologi tayub berasal dari kata ditata supaya guyub. Maknanya berarti sebuah tarian yang dirancang guna mempererat hubungan sosial dan menciptakan suasana kebersamaan (guyub) di antara masyarakat.

   Tari Tayub di Nganjuk mendapat pengaruh dari seni yang berkembang di wilayah Mataram. Hal ini ditunjukkan pada model busana, tata rias, lagu yang dilantunkan, hingga gerakan tari yang menyerupai tari Gambyong dari Jawa Tengah.

   Pada kesenian tari tayub, waranggana mengenakan pakaian adat Jawa untuk wanita, yaitu kebaya dan kemben yang dilengkapi dengan kain panjang serta sampur. Tak hanya itu, waranggana juga mengenakan berbagai aksesori, seperti sanggul, perhiasan, dan bunga.

  Sementara busana pramugari berupa pakaian adat Jawa lengkap, mulai dari blangkon, beskab atau batik, sewek, dan sepatu slop. Selain itu, juga dilengkapi dengan aksesoris berupa keris, dan bros.

Baca Juga: Tari Tayub Blitaran Dipentaskan dalam Ritual Adat Siraman Gong Kyai Pradah

   Sama halnya dengan pramugari, busana yang dikenakan pengrawit juga berupa pakaian adat Jawa lengkap. Di sisi lain, pengibing menggunakan busana yang dikenakan pada saat itu dan tidak ada ketentuan untuk mengenakan busana yang menarik.

   Iringan musik untuk pementasan adalah seperangkat gamelan lengkap. Terdiri dari kendang, bonang penerus, bonang barong, slenthem, peking, kenong, rebab, kempul, dan gong. Sedangkan, lagu atau tembangnya variatif.

Mulai gendhing langen tayub seperti Pepeling Trisnosudro dan Gelang Kalung, hingga lagu dangdut modern seperti Nganjuk Mranani dan Alamat Palsu yang dipopulerkan Ayu Tingting.

  Gerak tari waranggana didominasi goyang pinggul, lembehan, ukel penthangan, ukel lembehan, dan jogetan. Gerakan ini melambangkan ungkapan rasa syukur atas hasil panen, doa untuk kehidupan yang lebih baik, kekuatan untuk melawan roh jahat, semangat, dan kebersamaan.

   Tari tayub sebagai warisan budaya memiliki nilai ajaran moral yang tinggi sehingga patut dilestarikan guna memperkokoh identitas bangsa.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar nganjuk #Tari Tayub #seni tari #sejarah