Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Melihat Tradisi Bagi-Bagi THR saat Hari Raya Idul Fitri di Nganjuk

Novanda Nirwana • Minggu, 6 April 2025 | 19:04 WIB

 

Melihat Tradisi Bagi-Bagi THR saat Hari Raya Idul Fitri di Nganjuk
Melihat Tradisi Bagi-Bagi THR saat Hari Raya Idul Fitri di Nganjuk

Hari Raya Idul Fitri menjadi momen paling dinanti oleh umat Muslim di seluruh dunia. Selama perayaan, banyak tradisi yang biasa dilakukan.

Salah satunya adalah berbagi uang kepada anak-anak kecil yang biasa disebut THR. Tak disangka tradisi tersebut sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu tepatnya tahun 909.

Hari Raya Idul Fitri sangat identik dengan tradisi berkunjung ke keluarga dan teman dekat untuk bermaaf-maafan.

Namun ternyata banyak tradisi lain yang juga masih dilakukan hingga saat ini. Salah satunya berbagi uang Lebaran ke anak-anak kecil.

Baca Juga: Istiyono Raup Belasan Juta Rupiah untuk Satu Karya Seni

Uang kertas yang masih baru dibungkus pada amplop. Dibagikan ke anggota keluarga atau teman dekat.

Biasanya tradisi itu dilakukan oleh orang tua kepada anak kecil. Seperti ke sepupu, keponakan, cucu, dan sebagainya.

Namun tak disangka budaya itu sudah ada sejak lama sekali.

Seperti yang dikatakan oleh Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk Sri Handariningsih melalui Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Amin Fuadi.

Baca Juga: Populer di Kalangan Atlet, Inilah Efek Buruk Steroid

Dia menceritakan, berbagi amplop lebaran dipopulerkan oleh khalifah Dinasti Fatimiyah.

Yakni sebuah dinasti yang berkuasa di Afrika Utara dan Timur Tengah. “Sekitar tahun 909 hingga 1171,” paparnya.

Saat itu, berbagi amplop lebaran menjadi bagian dari perayaan Idul Fitri. Di mana orang-orang akan memberikan uang, pakaian, juga permen, kepada anak-anak dan masyarakat umum.

Baca Juga: Kenali istilah Jet Lag, Mengatasi Gangguan Tidur Akibat Perjalanan Lintas Zona Waktu

Namun, pada masa Kesultanan Turki Utsmani (Turki Ottoman), yang didirikan pada tahun 1299, tradisi ini mengalami pergeseran. Di hari lebaran, masyarakat hanya memberikan uang tunai kepada kerabat dekat.

Tradisi ini kemudian menyebar ke sejumlah negara Islam di Timur Tengah.  “Akhirnya sampai juga ke wilayah Indonesia yang dibawa oleh berbagai macam ulama yang berasal dari wilayah timur tengah,” jelas Amin.

Sejak itu, tradisi amplop lebaran pada saat perayaan lebaran juga bermunculan di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Siapa Sangka 4 Hobi Ini Ternyata Dapat Menghasilkan Uang

Namun, di Indonesia sendiri juga terpengaruh dengan konsep angpau oleh masyarakat Tionghoa. Sebab saat hari besar Tionghoa juga ada pembagian amplop.

“Nah itu berdampak juga pada kebiasaan pribumi saat hari besar termasuk pada saat hari raya,” katanya.

Dengan sejarah itulah terus dikembangkan hingga saat ini. terlebih dengan perkembangan IT.

Baca Juga: Walid, Sosok Pemimpin Karismatik dan Kontroversi Manipulatif dalam Drama Bidaah

Sehingga banyak orang yang bersaing untuk Baca Juga: Jumbo, Film Animasi Musikal Karya Anak Bangsa yang Sarat Maknamendesain amplop. “Itu menjadi sesuatu yang menarik. Saat berbagi angpau lebaran ini boleh dikatakan semacam euphoria,” pungkasnya.

Hingga saat ini, amplop lebaran menjadi momen yang dinantikan oleh anak-anak di Indonesia saat lebaran tiba.

Biasanya, keluarga yang lebih tua atau saudara-saudara yang sudah bekerja akan memberikan salam tempel kepada anak-anak yang berkunjung ke rumah mereka.

 

Tradisi ini umumnya berakhir ketika penerima uang telah beranjak dewasa dan tidak lagi bersekolah. 

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#lebaran #idul fitri #seni