Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Sound Horeg Menggebrak: Ribuan Warga Banjiri Palangan Banyuwangi

Elna Malika • Sabtu, 12 April 2025 | 21:31 WIB
Sound Horeg Menggebrak Ribuan Warga Banjiri Palangan Banyuwangi
Sound Horeg Menggebrak Ribuan Warga Banjiri Palangan Banyuwangi

JP Radar Nganjuk - Ribuan warga Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, tumpah ruah di lapangan palangan pada 5-6 April 2025 untuk menyaksikan tradisi adu sound system megah bertajuk Sound Horeg.

Acara ini awalnya digelar untuk memperingati malam takbiran Idul Fitri, namun karena bertepatan dengan Hari Raya Nyepi, penyelenggaraan diundur menjadi dua hari tersebut. Kemeriahan acara ini mencerminkan semangat kebersamaan yang kuat di kalangan masyarakat.

Sound Horeg, yang berarti "bergetar" dalam bahasa Jawa, bukan sekadar pertunjukan audio, melainkan perayaan budaya yang mengguncang. Puluhan sound system raksasa disewa dari berbagai daerah di Jawa Timur, seperti Jember, Surabaya, Malang, hingga Madura, untuk menghadirkan dentuman bass yang terdengar hingga radius 10 kilometer.

Warga dari berbagai usia, mulai anak-anak hingga lansia, larut dalam euforia yang menggema di seluruh desa.

Lapangan palangan, yang biasanya menjadi tempat kegiatan olahraga atau upacara, berubah menjadi arena pertunjukan spektakuler. Sekitar 20 tim sound system berpartisipasi, masing-masing membawa peralatan audio berdaya ribuan watt yang dipasang di atas truk Fuso atau Colt Diesel.

Cahaya lampu sorot dan dekorasi bertema lokal, seperti motif gajah oling khas Banyuwangi, memperkaya pengalaman visual para penonton.

Antusiasme warga terlihat sejak pagi hari, saat mereka mulai berdatangan dengan membawa tikar dan bekal. Banyak yang datang bersama keluarga atau teman, menjadikan acara ini sebagai ajang silaturahmi.

Anak-anak berlarian di sela kerumunan, sementara remaja dan dewasa asyik merekam dentuman suara yang menggetarkan tanah, menciptakan kenangan yang dibagikan di media sosial.

Penundaan acara dari malam takbiran ke 5-6 April dilakukan untuk menghormati Hari Raya Nyepi, menunjukkan sikap toleransi antarumat beragama di Banyuwangi. Meski diundur, semangat warga tidak surut.

Panitia memastikan acara tetap meriah dengan menghadirkan sound system berkualitas tinggi, yang mampu menghasilkan suara hingga 120 desibel, mengguncang udara dan menarik perhatian ribuan pengunjung.

Namun, volume suara yang luar biasa keras juga memicu kontroversi. Beberapa warga di sekitar lokasi mengeluhkan getaran yang terasa hingga ke rumah mereka, bahkan berpotensi merusak kaca atau genteng.

Untuk mengatasi hal ini, panitia membatasi waktu pertunjukan hingga sore hari dan berkoordinasi dengan kepolisian setempat untuk meminimalisasi gangguan, termasuk mengatur lalu lintas agar tidak macet.

Keamanan menjadi prioritas utama dalam acara ini. Polresta Banyuwangi mengerahkan personel untuk mengawal jalannya Sound Horeg, memastikan kerumunan tetap terkendali dan tidak terjadi insiden.

Kolaborasi antara panitia, pemerintah desa, dan aparat keamanan membuat acara berlangsung aman, meskipun jumlah pengunjung melebihi perkiraan, mencapai ribuan orang dari berbagai penjuru Jawa Timur.

Tradisi Sound Horeg di Sumbersewu bukan hanya hiburan, tetapi juga simbol identitas budaya lokal. Awalnya bermula dari takbiran sederhana dengan speaker kecil, kini acara ini telah berevolusi menjadi parade audio megah yang melibatkan teknologi canggih.

mitBaca Juga: Suara Bersiul Malam Dapat Mengacaukan Energi Mistis, Mitos atau Fakta?

Setiap tim peserta tidak hanya memamerkan kekuatan suara, tetapi juga kreativitas melalui desain panggung yang menggambarkan kekayaan budaya Banyuwangi.

Dampak ekonomi dari acara ini juga signifikan. Pedagang makanan, minuman, dan suvenir memadati area sekitar palangan, menawarkan berbagai produk seperti sate, es degan, hingga kaos bertema Sound Horeg.

Kehadiran ribuan pengunjung dari luar daerah turut menggerakkan roda ekonomi lokal, memberikan keuntungan bagi pelaku UMKM di Desa Sumbersewu dan sekitarnya.

Ketika acara mencapai puncaknya pada malam hari, dentuman bass semakin menggema, diiringi sorak sorai penonton yang bergoyang mengikuti irama musik. Sound Horeg 2025 di Banyuwangi tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga cerminan semangat gotong royong dan toleransi.

Meski sempat diundur, tradisi ini tetap bergema di hati warga, menjanjikan kemeriahan yang lebih besar di tahun-tahun mendatang.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#sound #banyuwangi #radar nganjuk #KOTA ANGIN #Horeg