NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Tren Jualan Live Streaming Lewat Media Sosial Kian Menggeliat Bisa Jangkau Pembeli Lebih Banyak Tren jualan live streaming lewat media sosial semakin berkembang. Cara ini dianggap efektif untuk menjangkau pembeli lebih banyak. Dalam sehari, pemilik toko online bisa live streaming tiga kali. Mirip seperti orang minum obat. Karena dilakukan dengan cara praktis, metode ini banyak diminati. Sekarang, penjual offline beramai-ramai memanfaatkan fitur live streaming untuk mempromosikan dan menjual produknya.
Salah satu penjual yang memanfaatkan tren ini adalah Siti Umiarti, pemilik toko fashion busana muslim Nibras Hijab di Nganjuk. Ia mengaku sudah berjualan melalui live streaming sejak Maret 2021 lalu.
Umi Sabrina, panggilan akrab Siti Umiarti, mengatakan bahwa fitur live streaming membantunya meyakinkan pelanggan akan kualitas produk yang ia tawarkan. Selain itu, ia juga ingin lebih memaksimalkan penjualan dan supaya NHS Nganjuk dikenal oleh masyarakat di luar kota. ”Kalau streaming kan pembeli bisa lihat beneran barangnya, yang dikirim kan ya pasti itu, jadi memaksimalkan kepercayaan konsumen terhadap produk kita,” tuturnya.
Diakui Umi Sabrina, saat ini tokonya melakukan penjualan melalui live streaming secara reguler setiap hari. Dalam pelaksanaannya, Umi Sabrina mengakomodir para karyawan tokonya untuk mengelola akun sosial media dan sistem penjual secara digital. ”Pastinya kami akan menyesuaikan sesuai trend yang sedang ada, jadi yang sebelumnya mungkin belum pernah buat konten video, kami mencoba membuat konten menarik supaya produknya banyak dikenal masyarakat dan bisa mendongkrak followers,” imbuhnya.
Umi Sabrina mengatakan dalam satu hari umumnya berjualan lewat aplikasi selama lima sampai enam jam. ”Minimal 1 jam dan maksimal 2 jam, sehari ada live 3 kali di 1 akun TikTok dan 1 akun Shopee, dalam keadaan atau event tertentu bisa lebih dari 2 jam streaming live-nya, penontonnya bisa 500-600 penonton,” terang alumnus Unair ini.
Berkat memanfaatkan penjualan dengan sistem digital, Umi Sabrina mengaku, mengalami peningkatan penjualan yang cukup signifikan. Yang paling mudah dilihat adalah, jangkauan pembeli yang semakin luas. Pengiriman barangnya bisa ke seluruh Indonesia.
”Penjualan saat ini 50 banding 50 untuk online dan offline-nya. Karena tujuan live streaming kami untuk membranding brand supaya lebih dikenal lebih banyak orang dan bisa menjangkau konsumen luar kota,” paparnya.
Tren jualan live streaming lewat media sosial ini memang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan metode penjualan konvensional. Selain lebih interaktif, live streaming juga memungkinkan penjual untuk menampilkan produk secara langsung kepada calon pembeli. Hal ini tentu dapat meningkatkan kepercayaan calon pembeli terhadap produk yang dijual.
Putar Otak saat TikTok Shop Ditutup
Penutupan TikTok Shop oleh pemerintah pada akhir 2022 lalu, membuat sejumlah pengusaha fashion harus memutar otak. Mereka harus mencari cara baru memasarkan produknya. Salah satu yang terdampak penutupan itu adalah Siti Umiarti, pemilik Nibras House Nganjuk (NHs Nganjuk).
Umi Sabrina, panggilan akrab Siti Umiarti, mengaku telah memaksimalkan promo offline. Ia harus berinovasi untuk penjualan offline agar dibuat lebih beda dari sebelumnya. ”Contoh buat bazar atau kita agendakan sebar flyer untuk menginfokan ke masyarakat sekitar tentang produk baru nibras dan promo yg berlaku,” terangnya.
Selain itu, karena Shopee tetap buka dan bisa juga order melalui Whatshap, pihaknya juga memaksimalkan penjualan pada platform tersebut. ”Kita juga tetap memaksimalkan live streaming di Shopee, tapi kita juga harus rajin promosi di media sosial lainnya,” imbuhnya.
Ia menceritakan suka dukanya selama menekuni penjualan secara live streaming. ”Positifnya, selama ada penjualan di live itu bisa menambah omset penjualan dan ia bisa mudah untuk menjaring customer baru,” ujarnya. ”Untuk dukanya yang sering terjadi oderan paket COD yang tiba-tiba dicancel oleh pembeli tidak konfirmasi terlebih dahulu, dan pernah kejadian paket pernah hilang atau rusak ketika dibawa kurir,” keluhnya.
Sehingga hal itu membuat kerugian. Mulai dari rugi waktu, tenaga dan uang. Namun ia tetap memaksimalkan agar konsumen mendapat barang yang sesuai dan datang sesuai alamat dengan cepat.
Kemudian, selama live streaming, ada hal yang penting yang harus dikuasai oleh host yakni harus menyapa setiap viewers yang baru bergabung, semangat dan tidak bertele-tele dalam menjelaskan produk. ”Supaya tidak kehilangan topik kita bisa mereview produk yg bervariasi dan memberikan rekomendasi outfit seperti mix and match produk, dan mengajak para viewers untuk komen, tap tap layar serta share link live dan kita ajak ngobrol viewers yang stay tune,” terangnya.
Selain itu, host juga harus aktif dan kreatif agar ketika ada penonton masuk live menjadi betah dan staytune.
Disperindag Mendorong Pelaku Usaha Fashion di Pasar Kertosono Jualan Online
Era digital memberikan kesempatan yang sama untuk semua lapisan, khususnya pedagang pasar pun dapat menjual produknya melalui online. Selain praktis, potensi pemasarannya lebih luas.
Hal ini disampaikan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Nganjuk Haris Jatmiko. Ia mengatakan, pihaknya mendorong agar para pedagang di Pasar Baru Kertosono untuk menyesuaikan diri dengan digitalisasi seperti yang dilakukan oleh sejumlah pengusaha di bidang fashion. “Sehingga eksistensi mereka tak tergerus oleh e-commerce yang sedang marak,” tuturnya.
Pasar Baru Kertosono sudah dilengkapi dengan wifi gratis. Hal tersebut untuk mempermudah transaksi digital masyarakat. Selain itu dengan wifi gratis akan menjadi daya tarik masyarakat dan pengunjung untuk berlama lama di pasar.
Pemasangan wifi juga sudah dilakukan sejak sebelum lantai I beroperasi. Sehingga saat pasar baru Kertosono resmi beroperasi secara menyeluruh, semua fasilitas sarana dan prasarana untuk pedagang dan pembeli termasuk wifi sudah bisa digunakan.
“Satu hal sebenarnya Wi-Fi tersebut bisa digunakan pedagang untuk menjual secara online jadi ada online tapi ini juga bukan hanya pedagang tapi memberikan kemudahan para pedagang,” terangnya seraya mengatakan wifi ada di tiga titik.
Menurutnya, meskipun zaman berkembang, keberadaan pedagang pasar harus bertahan. Oleh karena itu, pihaknya memberikan intervensi kepada pedagang agar mereka segera beradaptasi dengan tantangan digitalisasi. “Harus mengikuti perkembangan zaman yang semakin modern dan didukung teknologi,” ujarnya.
Oleh karena itu, pihaknya juga telah membuat aplikasi market place agar digunakan oleh para pedagang Pasar Baru Kertosono untuk berjualan secara online.
“Sudah kami berikan juga market place namanya Bakul Nganjuk. Jadi pedagang harus mau adaptasi, kalau dulu memang pedagang pasar hanya cukup diam saja menunggu pembeli. Sekarang pedagang tetap bisa jualan secara online sambil menunggu di lapak,” terangnya.
Haris berharap, dengan adanya dukungan dari pemerintah, para pedagang Pasar Baru Kertosono dapat segera beradaptasi dengan digitalisasi dan meningkatkan penjualan mereka.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Redaksi Radar Nganjuk