Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Aplikasi Temu, Marketplace Asal China Dilarang oleh Kemenkominfo. Kok Bisa?

Redaksi Radar Nganjuk • Jumat, 4 Oktober 2024 | 20:47 WIB

Photo
Photo

NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Budie Arie Setiadi, selaku Menteri Komunikasi dan Informatika menyatakan bahwa aplikasi marketplace Temu dapat memberikan dampak negatif terhadap keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia.
Ia juga menegaskan bahwa jika Temu dibiarkan beroperasi dalam jangka panjang, hal itu bisa mengancam keberadaan UMKM.
Pernyataan ini menekankan betapa pentingnya regulasi untuk mempertahankan keseimbangan pasar dan melindungi UMKM dari persaingan yang tidak adil.
Situasi ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi UMKM di era digital, terutama dengan kehadiran platform besar yang mampu menawarkan harga lebih murah dan jangkauan yang lebih luas.
"Termasuk juga dari kemarin saya selalu ditanya soal Temu, nggak, nggak boleh Temu. Saya akan keras Temu nggak boleh beroperasi di Indonesia," ujar Budi Arie saat berada di acara Sarasehan Kadin Indonesia di Jakarta Selatan, Kamis (3/10/2024).
Kenali Aplikasi Temu
Temu adalah aplikasi e-commerce dari China yang menyediakan berbagai produk dengan diskon dan harga yang murah.
Meskipun terlihat mirip dengan Shopee dan TikTok Shop, Temu memiliki perbedaan unik karena terhubung langsung dengan 80 pabrik di China, yang memungkinkan produk mereka dikirim langsung ke konsumen di seluruh dunia.
Hal ini mengakibatkan barang-barang yang dijual di Temu cenderung lebih murah, yang akan berpengaruh bagi produk lokal yang mungkin tidak mampu bersaing dalam hal harga.
Menurut catatan Bisnis, sejak September 2022, Temu telah mencoba mendaftarkan mereknya di Indonesia sebanyak tiga kali.
Bahkan, pada 22 Juli 2024, aplikasi ini mengajukan ulang pendaftarannya di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM).
Namun, pendaftaran merek Temu tidak berhasil karena ada perusahaan Indonesia yang sudah menggunakan nama serupa dengan klasifikasi yang hampir sama.
Temu berhasil memperluas operasinya dan kini tersedia di 48 negara, termasuk Thailand dan Malaysia. Berdasarkan laporan Southeast Asia E-commerce Outlook 2024 yang diterbitkan oleh TMO Group.
Temu diluncurkan di 48 negara pada Desember 2023, dengan sekitar 120 juta pengguna aktif dan rata-rata 1,6 juta paket dikirim setiap hari.
Di Amerika Serikat, sekitar 9% penduduknya berbelanja melalui Temu dalam setahun terakhir. Aplikasi ini juga secara konsisten menduduki posisi teratas dalam hal unduhan di Apple App Store dan Google Play.
Temu, yang merupakan bagian dari perusahaan teknologi China Pinduoduo, pertama kali memasuki pasar Asia Tenggara melalui Filipina pada 26 Agustus 2023, sebelum melanjutkan ekspansinya ke Malaysia pada 8 September 2023.

Editor : Redaksi Radar Nganjuk