JP Radar Nganjuk – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih belum menunjukkan tanda-tanda penguatan yang signifikan.
Pada perdagangan Jumat (2/5), rupiah ditutup melemah tipis di angka Rp16.602 per dolar AS.
Berdasarkan data dari Bank Indonesia dan pasar spot, mata uang Garuda terdepresiasi sekitar 25 poin atau 0,15 persen dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya.
Baca Juga: Harga Emas Per 2 Mei Turun Tajam, Peluang bagi Investor? Simak Penjelasannya
Sepanjang sesi perdagangan, rupiah bergerak dalam kisaran Rp16.540 hingga Rp16.610 per dolar AS.
Pergerakan ini mencerminkan adanya tekanan dari faktor eksternal yang masih cukup dominan.
Para analis pasar uang memperkirakan bahwa dalam waktu dekat, pergerakan rupiah akan cenderung terbatas dan cenderung sideways, seiring investor yang bersikap hati-hati terhadap berbagai sentimen global.
Baca Juga: Cara Menukar Uang Kertas Rupiah Emisi 1979-1982 di Bank Indonesia Sebelum Tenggat Waktu Habis
Salah satu faktor utama yang memengaruhi nilai tukar rupiah adalah arah kebijakan suku bunga The Fed yang masih belum pasti.
Ketidakpastian tersebut membuat investor global memilih untuk menunggu dan mengamati perkembangan pasar.
Selain itu, ketegangan geopolitik dunia juga turut menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari sisi domestik, pelaku pasar juga mencermati beberapa indikator ekonomi seperti tingkat inflasi, data neraca perdagangan, serta kebijakan fiskal pemerintah.
Baca Juga: Animecoin (ANIME) Resmi Hadir di INDODAX, Token Kripto untuk Pecinta Anime
Jika indikator-indikator ini menunjukkan perbaikan dalam waktu dekat, rupiah berpotensi untuk menguat secara perlahan.
Analis dari Monex Investindo Futures menilai bahwa meskipun tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda, prospek pemulihan ekonomi nasional tetap memberikan harapan bagi stabilitas nilai tukar dalam jangka menengah.
Penulis: Effa Desiana Hidayah
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira