Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Lonjakan Harga Kelapa di Indonesia Akibat Gairah Ekspor, China Jadi Pembeli Utama

Elna Malika • Minggu, 4 Mei 2025 | 05:37 WIB
pohon kelapa
pohon kelapa

JP Radar Nganjuk - Dalam beberapa bulan terakhir, harga kelapa di pasar domestik Indonesia mengalami kenaikan signifikan.

Fenomena ini tidak terlepas dari tingginya permintaan ekspor, khususnya dari China, yang menjadi destinasi utama komoditas kelapa bulat.

Kenaikan harga ini membawa berkah bagi petani, namun juga menimbulkan tantangan bagi pasokan dalam negeri dan industri pengolahan lokal.

Artikel ini akan mengulas penyebab melonjaknya harga kelapa, dampaknya, serta langkah-langkah yang diambil pemerintah untuk menyeimbangkan kepentingan petani, eksportir, dan kebutuhan domestik.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor kelapa bulat Indonesia pada Januari-Maret 2025 mencapai US$45,6 juta, melonjak 146% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

China mendominasi sebagai tujuan ekspor dengan nilai US$43,1 juta, diikuti oleh Vietnam dan Thailand.

Tingginya permintaan dari China, khususnya untuk kelapa segar dan produk olahannya seperti santan sebagai alternatif susu, menjadi pendorong utama.  

Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan bahwa harga ekspor yang lebih menggiurkan membuat banyak pelaku usaha memilih menjual kelapa ke luar negeri.

Akibatnya, pasokan di pasar lokal menipis, mendorong harga kelapa bulat di pasar domestik naik dari Rp10.000-Rp15.000 per butir menjadi Rp20.000-Rp25.000 per butir, tergantung ukuran.

Di beberapa pasar seperti Pasar Rumput, Jakarta Selatan, pedagang melaporkan kenaikan harga sejak Ramadan 2025 akibat perebutan pasokan di tingkat petani.  

Kenaikan harga kelapa membawa angin segar bagi petani yang selama puluhan tahun menghadapi harga stagnan di kisaran Rp1.000-Rp1.500 per kilogram.

Muhaemin dari PERPEKINDO menyebutkan bahwa ekspor telah memicu geliat positif, mendorong petani untuk merawat kebun dan melakukan replanting.

Momentum ini diharapkan dapat mengembalikan kejayaan sektor kelapa Indonesia.  

Namun, di sisi lain, industri pengolahan kelapa lokal mengalami kesulitan. Kelangkaan bahan baku telah mengganggu produksi, bahkan memicu ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).

Kementerian Perindustrian mengusulkan moratorium ekspor kelapa bulat selama 3-6 bulan untuk menstabilkan pasokan domestik, meskipun usulan ini masih dalam pembahasan.  

Pemerintah, melalui Kementerian Perdagangan, telah mengadakan pertemuan dengan eksportir dan pelaku industri untuk mencari solusi.

Budi Santoso menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan dalam negeri dan keuntungan ekspor.

“Harga tidak boleh terlalu rendah karena petani dan eksportir akan rugi, tapi kebutuhan lokal juga harus terpenuhi,” ujarnya.  

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendorong percepatan penanaman kelapa untuk memenuhi permintaan global, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan devisa negara.

Program replanting dan pemeliharaan kebun diharapkan dapat meningkatkan produksi jangka panjang.  

Meskipun ekspor kelapa memberikan keuntungan ekonomi, fluktuasi ekspor ke China seperti penurunan dari US$958.689 pada 2023 ke US$683.499 pada 2024 menunjukkan perlunya strategi yang lebih stabil.

Indonesia juga tertinggal dari Vietnam, yang sukses menembus pasar premium dengan produk kelapa organik berkat perjanjian perdagangan khusus dengan China.  

Untuk mengatasi tantangan ini, Indonesia perlu memperkuat diversifikasi pasar dan industri pengolahan dalam negeri.

Produk turunan kelapa seperti nata de coco, arang batok, dan virgin coconut oil (VCO) memiliki nilai tambah hingga 11 kali lipat, namun ekspor kelapa bulat masih mendominasi.

Investasi dalam pengolahan dan riset untuk bibit unggul dapat meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.  

Baca Juga: Beberapa Jenis Investasi Ini Cocok untuk Pemula, Jangan Tunda Mumpung Masih Muda!

Lonjakan harga kelapa akibat ekspor, terutama ke China, mencerminkan potensi besar komoditas ini di pasar global sekaligus tantangan dalam menjaga keseimbangan pasokan domestik.

Kenaikan harga memberikan harapan baru bagi petani, tetapi juga menekan industri lokal dan konsumen.

Pemerintah perlu merumuskan kebijakan yang mendukung petani dan eksportir tanpa mengorbankan kebutuhan dalam negeri, sembari mendorong hilirisasi untuk memaksimalkan nilai tambah kelapa Indonesia.

Dengan langkah strategis, Indonesia berpeluang memperkuat posisinya sebagai eksportir kelapa terbesar di dunia.

Editor : Elna Malika
#harga kelapa #china #kenaikan signifikan #pasokan #tantangan #fenomena #radar nganjuk #indonesia #kementerian perindustrian #pemerintah #santan #ekspor #pasar domestik