JP Radar Nganjuk – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan bergerak dinamis sepanjang sepekan ke depan.
Sentimen dari luar negeri, terutama terkait kebijakan moneter AS, menjadi penentu utama pergerakan rupiah di pasar valuta asing.
Pengamat pasar uang Ariston Tjendra menyebutkan bahwa peluang penguatan masih terbuka, namun tekanan dari faktor eksternal tetap membayangi.
Rupiah berpotensi bergerak di rentang Rp15.450 hingga Rp15.700 per dolar AS.
Salah satu sorotan utama datang dari arah kebijakan suku bunga acuan AS (Fed Funds Rate).
Bila The Fed memberi sinyal akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat, maka dolar AS bisa melemah, memberi ruang bagi rupiah untuk menguat.
Namun, data ekonomi AS juga berperan penting.
Baca Juga: SRBI Tarik Dana Asing Hingga Rp 3,95 Triliun pada Akhir April 2025
Bila data inflasi atau pertumbuhan ekonomi AS dirilis lebih tinggi dari ekspektasi, maka dolar bisa kembali menguat karena pasar menilai The Fed akan menahan pemangkasan suku bunga.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik dan dinamika pasar global juga turut memengaruhi minat investor terhadap aset-aset berisiko.
Dalam kondisi tidak pasti, investor cenderung melirik dolar sebagai aset aman safe haven, yang dapat menekan posisi rupiah.
Meski begitu, dari sisi domestik, stabilitas ekonomi Indonesia dinilai cukup kuat untuk menopang rupiah dalam jangka pendek.
Intervensi Bank Indonesia dan aliran modal asing juga turut menjadi penopang utama.
Penulis: Effa Desiana Hidayah
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira