Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Antusiasme Warga Bekasi Daftar WorldID: Perekaman Iris Mata dan Foto, Begini Penjelasan Operator

Elna Malika • Selasa, 6 Mei 2025 | 00:30 WIB
Antusiasme Warga Bekasi Daftar WorldID: Perekaman Iris Mata dan Foto, Begini Penjelasan Operator
Antusiasme Warga Bekasi Daftar WorldID: Perekaman Iris Mata dan Foto, Begini Penjelasan Operator
 
JP Radar Nganjuk - Fenomena aplikasi World App baru-baru ini menghebohkan warga Bekasi, Jawa Barat, dengan antrean panjang di berbagai lokasi seperti Narogong, Bojong Rawalumbu, dan Bekasi Timur.
 
Warga dari berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga lansia, berbondong-bondong mendaftar untuk mendapatkan WorldID, sebuah identitas digital berbasis blockchain yang dikembangkan oleh Tools for Humanity, perusahaan di balik proyek Worldcoin yang digagas oleh Sam Altman, pendiri OpenAI.
 
Proses pendaftaran melibatkan pemindaian iris mata menggunakan alat khusus bernama Orb serta pengambilan foto untuk verifikasi identitas.
 
Menurut operator lokal, perekaman iris mata dilakukan untuk menciptakan kode identifikasi unik yang disimpan di blockchain Worldcoin guna mencegah duplikasi identitas.
 
Mereka menegaskan bahwa data biometrik tidak disimpan secara permanen dan hanya digunakan untuk proses verifikasi, dengan tujuan utama mendorong inklusi keuangan global dan memberikan pengguna kendali atas data digital mereka.
 
 
“WorldID bertujuan memverifikasi bahwa pengguna adalah manusia, bukan bot, sehingga mendukung keamanan di era digital,” ujar salah satu operator.
 
Antusiasme warga didorong oleh imbalan berupa token Worldcoin (WLD) yang dapat ditukar menjadi uang tunai, dengan nilai bervariasi antara Rp200.000 hingga Rp800.000, tergantung pada nilai tukar kripto saat itu.
 
Namun, ramainya pendaftaran ini memicu kekhawatiran terkait keamanan data pribadi. Pengamat keamanan siber, Alfons Tanujaya dari Vaksincom, memperingatkan masyarakat untuk berhati-hati dalam memberikan data biometrik kepada pihak ketiga.
 
“Data iris mata sangat sensitif. Jika disalahgunakan, risikonya besar,” katanya.
 
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) merespons fenomena ini dengan membekukan sementara izin operasional Worldcoin dan WorldID di Indonesia pada 4 Mei 2025, sebagai langkah preventif untuk melindungi masyarakat dari potensi penyalahgunaan data.
 
 
Komdigi juga menemukan bahwa PT Terang Bulan Abadi, yang diduga mengelola operasi lokal, belum terdaftar sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) dan tidak memiliki Tanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik (TDPSE) sesuai regulasi.
 
Sementara itu, Worldcoin menggunakan TDPSE atas nama PT Sandina Abadi Nusantara.
 
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, mengimbau warga untuk waspada terhadap praktik pengumpulan data biometrik yang menawarkan imbalan uang.
 
“Jangan tergiur iming-iming uang tanpa memahami risiko penggunaan data pribadi,” tegasnya.
 
Ia juga mendukung langkah Komdigi untuk menghentikan sementara kegiatan Worldcoin di Bekasi hingga ada kejelasan soal keamanan data.
 
Meski menawarkan potensi manfaat seperti akses ke ekosistem keuangan terdesentralisasi, proyek Worldcoin sebelumnya telah menuai kontroversi di negara lain, seperti Kenya dan Prancis, karena isu privasi.
Di Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat pentingnya literasi digital dan perlindungan data pribadi di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
 
Editor : Elna Malika
#identifikasi #world app #bekasi #token #radar nganjuk berita hari ini #aplikasi #kripto #operator #World coin #komdigi #World ID #iris mata #nilai tukar