JP Radar Nganjuk– Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan pada awal pekan ini.
Berdasarkan data kurs tengah Bank Indonesia yang dirilis Senin (12/5), rupiah tercatat berada di posisi Rp16.534 per dolar AS, turun dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp16.502.
Pergerakan mata uang Garuda ini mencerminkan masih tingginya tekanan dari faktor eksternal.
Ketidakpastian global, terutama terkait kebijakan suku bunga The Fed dan ketegangan geopolitik, turut mempengaruhi sentimen investor terhadap aset-aset di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, pelemahan rupiah kali ini lebih disebabkan oleh penguatan dolar AS secara global.
“Pasar masih menunggu arah kebijakan moneter AS berikutnya. Selama ada ketidakpastian, investor cenderung beralih ke aset safe haven,” jelasnya.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang cenderung bervariasi.
Beberapa menguat, sementara yang lain, seperti rupiah, justru melemah.
Hal ini menunjukkan dinamika pasar yang masih sangat sensitif terhadap data-data ekonomi global terbaru.
Ke depan, para analis memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih bisa berlanjut, meski dalam kisaran yang terbatas.
Pasar akan mencermati rilis data inflasi AS dan proyeksi pertumbuhan ekonomi dalam waktu dekat sebagai acuan.
Pemerintah dan Bank Indonesia diminta terus menjaga stabilitas nilai tukar dengan kebijakan moneter dan fiskal yang adaptif, agar rupiah tidak terlalu tertekan dan tetap mendukung pemulihan ekonomi nasional.
Penulis: Effa Desiana Hidayah
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira