JP Radar Nganjuk – Nilai tukar mata uang mencerminkan kekuatan ekonomi suatu negara.
Namun, tak semua negara mampu menjaga stabilitas kursnya di tengah tekanan global.
Tahun 2025 ini, sejumlah negara masih berkutat dengan persoalan inflasi, utang, hingga sanksi ekonomi yang membuat nilai mata uang mereka terus merosot.
Berikut lima mata uang terlemah di dunia versi terbaru.
1. Rial Iran (IRR)
Rial Iran kembali menduduki posisi terlemah di dunia. Nilai tukarnya terhadap dolar Amerika Serikat berada di kisaran 42.000 IRR per USD.
Meski Iran dikenal sebagai negara dengan cadangan minyak melimpah, sanksi internasional berkepanjangan serta inflasi kronis membuat mata uang mereka nyaris tak bernilai.
Kebijakan ekonomi yang tertutup memperparah kondisi tersebut.
2. Dong Vietnam (VND)
Vietnam memang mengalami pertumbuhan ekonomi cukup stabil, namun mata uangnya masih belum mampu menguat.
Dong Vietnam tercatat memiliki nilai tukar sekitar 25.000 VND per dolar AS.
Pemerintah masih memberlakukan kontrol ketat terhadap kurs, demi menjaga daya saing ekspor.
Namun, strategi ini justru membuat nilai tukar tetap rendah di pasar global.
3. Kip Laos (LAK)
Laos masuk dalam daftar dengan nilai tukar Kip yang berada di angka 21.800 LAK per dolar AS.
Keterbatasan dalam investasi dan utang luar negeri yang menumpuk menjadi penyebab utama pelemahan ini.
Ditambah dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat, pemerintah Laos menghadapi tantangan berat dalam memperkuat nilai tukarnya.
4. Leone Sierra Leone (SLL)
Sierra Leone menghadapi krisis ekonomi yang berkepanjangan.
Mata uang mereka, Leone, diperdagangkan di kisaran 22.790 SLL per USD.
Tingginya inflasi yang mencapai lebih dari 40 persen dan dampak dari krisis kesehatan seperti Ebola serta pandemi membuat ekonomi negara ini tertekan hebat.
5. Rupiah Indonesia (IDR)
Rupiah Indonesia masuk dalam lima besar mata uang terlemah, dengan nilai tukar sekitar 16.559 IDR per dolar AS.
Meski ekonomi Indonesia tumbuh stabil dan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara, berbagai faktor seperti utang luar negeri, defisit transaksi berjalan, dan tekanan global turut memengaruhi posisi rupiah di pasar dunia.
Penulis: Effa Desiana Hidayah
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira