Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Sepi Pembeli Usai Idul Adha, Pedagang Daging di Nganjuk Nyaris Merugi! Ini Jurus Daruratnya

Novanda Nirwana • Selasa, 1 Juli 2025 | 03:07 WIB

SEPI PEMBELI: Darminem, penjual daging di Pasar Wage Nganjuk melayani pembeli kemarin. Dua hari dia hanya mampu menjual lima kilogram daging.
SEPI PEMBELI: Darminem, penjual daging di Pasar Wage Nganjuk melayani pembeli kemarin. Dua hari dia hanya mampu menjual lima kilogram daging.

NGANJUK, JP Radar Nganjuk – Penjual daging sapi di Pasar Wage Nganjuk mengeluh kemarin. Karena setelah Hari Raya Idul Adha, omzet penjualannya menurun drastis. Darminem, 60, penjual daging di Pasar Wage mengatakan, pembeli semakin sepi sejak Idul Adha. Sepinya pembeli membuat Darminem harus mengurangi penjualannya. “Biasanya sehari bisa jual 10 kilogram daging tetapi sekarang dua hari hanya bisa jual 5 kilogram saja,” keluhnya.

Otomatis, Darminem kebingungan. Karena daging yang dijualnya di pasar harus dibawa pulang. Agar tidak busuk, dia harus memutar otak. “Langsung saya taruh kulkas atau saya rebus biar tahan lama,” ujarnya. 

Setelah dikulkas atau direbus, pedagang asal Kelurahan Payaman, Kecamatan Nganjuk ini mengaku jika daging sapinya menjadi kurang diminati. Karena kondisinya tidak lagi fresh. “Pembeli itu suka yang fresh dagingnya,”ujarnya.

Baca Juga: Ternyata Kereta Api Ini Tidak Berhenti di Stasiun Nganjuk

Terkait harga, Darminem mengungkapkan, sebenarnya tidak ada kenaikan harga. Harga daging sapi stabil di angka Rp 120 ribu perkilogram. “Harga tetap sebenarnya tetapi pembeli yang sepi,” tambahnya.

Agar tidak rugi besar, Darminem menawarkan daging yang tidak laku tersebut ke pedagang bakso atau warung makanan. Harganya dibuat lebih murah. Ini agar mereka mau membeli. “Biar ruginya tidak terlalu banyak,” ujarnya. 

Sementara itu, Nurhamsyah, 35, warga Pace mengaku tidak membeli daging sapi bukan karena tidak suka daging sapi. Namun, kondisi perekonomian saat ini yang sedang sulit. “Daripada buat beli daging mending dibuat beli beras dan tempe,” ujarnya. 

Bapak satu anak ini mengatakan, saat ini warga yang dibutuhkan adalah makan untuk kenyang. Tidak lagi mengejar harus lauk daging. Karena kondisi perekonomian yang sedang lesu. “Yang penting kenyang dan bergizi. Kalau tidak bisa buat beli daging ya tempe saja,” pungkanya. (nov/tyo)

Editor : Jauhar Yohanis
#pasar wage nganjuk #bakso #daging sapi #idul adha