Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Mengintip Proses Pengolahan Kopi Wae Rebo dan Perannya bagi Ekonomi Keluarga

Internship Radar Kediri • Rabu, 17 September 2025 | 16:24 WIB
Buah kopi merah siap panen, awal perjalanan rasa dalam setiap cangkir.
Buah kopi merah siap panen, awal perjalanan rasa dalam setiap cangkir.

JP RADAR NGANJUK Di balik keindahan alam Wae Rebo, desa adat di pegunungan Manggarai, Flores, tersimpan kisah sederhana tentang kopi. Sejak tahun 2000, masyarakat Wae Rebo telah menjadikan kopi arabika sebagai tanaman utama yang menopang ekonomi keluarga. Pilihan ini bukan tanpa alasan—berbeda dengan tanaman lain, pohon kopi tahan terhadap angin kencang. Ia tidak mudah patah, justru tetap kokoh meski diterpa badai.

Bagi keluarga maupun masyarakat sekitar, kopi bukan sekadar hasik bumi, melainkan juga penopang hidup. Hasil penjualan kopi dapat membantu warga memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari membeli beras hingga membiayai Pendidikan anak-anak. Tidak berlebihan bila kopi disebut sebagai denyut nadi ekonomi Wae Rebo.

Dari Panen Hingga Siap Jual

Proses pengolahan kopi di Wae Rebo masih dilakukan secara tradisional. Buah kopi yang baru dipetik bisa langsung digiling untuk mengupas kulitnya atau dibiarkan semalaman terlebih dahulu. Setelah digiling, biji kopi Kembali disimpan semalam sebelum dicuci bersih. Proses berikutnya adalah penjemuran hingga benar-benar kering, kemudian dipilah Kembali untuk memisahkan biji rusak.

Baca Juga: Bulog Kediri Siapkan 18 Ribu Ton untuk Tekan Harga Beras di Kabupaten Nganjuk

Siklus panen cukup Panjang. Setelah ditanam, pohon kopi baru mulai berbunga sekitar tiga tahun kemudian. Dari bunga menjadi buah, dibutuhkan waktu tujuh bulan. Misalnya, jika pohon kopi berbunga pada bulan November, maka panen biasanya dimulai sekitar bulan Mei. Musim panen kopi berlangsung sekali dalam setahun dengan durasi dua hingga tiga bulan.

Tantangan di Perkebunan Kopi

Merawat kebun kopi di Wae Rebo tidak selalu mudah. Salah satu tantangan terbesar dating dari hama seperti tupai dan kera yang sering merusak dahan dan memakan buah kopi. Selain itu, musim panen biasanya bertepatan dengan musim hujan, sehingga penjemuran kopi sering terkendala cuaca.

Harga pasar pun kerap menjadi masalah. Jika hanya ada satu agen kopi yang membeli hasil panen, harga bisa ditekan semaunya. Hal ini tentu merugikan para petani yang menggantungkan hidup dari kopi.

Baca Juga: Satu Pohon Durian di Sawahan Nganjuk Dapat Menghasilkan Ribuan Buah

Meski demikian, ada sisi positifnya. Tanah Wae Rebo yang subur membuat tanaman kopi bisa tumbuh tanpa perlu pupuk tambahan. Biaya tenaga kerja relative terjangkau, yaitu sekitar Rp100.000-Rp130.000 per orang perhari, tergantung siapa yang menaggung makan.

Nilai Ekonomi Kopi Wae Rebo

Hasil panen kopi biasanya dijual langsung kepada pembeli yang datang ke desa, bukan kepada perusahaan besar. Harga bervariasi tergantung bentuk olahan. Kopi biji yang baru dijemur dua hari dijual seharga Rp10.000 per liter, sedangkan biji kering siap jual sekitar Rp60.000 per kilogram. Kopi sangrai dijual Rp100.000 per kilogram, sementara kopi bubuk bisa mencapai Rp150.000 per kilogram.

Nilai ekonomi kopu sangat terasa di masyarakat. Dari hasil panen, keluarga bisa memenuhi kebutuhan harian hingga membiayai sekolah anak-anak. Tidak berlebihan bila kopi disebut sebagai salah satu tumpuan utama keberlangsungan hidup masyarakat Wae Rebo.

Baca Juga: Harga Brambang di Nganjuk Melonjak jelang Ramadhan

Peluang dan Harapan

Pariwisata menjadi peluang besar bagi perkembangan kopi Wae Rebo. Sebagai desa wisata, banyak pengunjung yang datang tidak hanya untuk menikmati keindahan rumah adat Mbaru Niang, tetapi juga untuk mencicipi kopi asli pegunungan Flores.

Bahkan, tak sedikit wisatawan yang membeli kopi dalam jumlah besar untuk dibawa pulang. Hal ini memacu semangat petani untuk terus merawat dan mengolah kopi dengan baik.

Harapannya, generasi muda di Wae Rebo tetap mencintai dan mempertahankan kopi sebagai warisan sekaligus sumber penghidupan. Meski ada peluang menanam komoditas lain seperti cengkeh, kopi tetap dianggap paling sesuai dengan kondisi alam desa.

Baca Juga: Harga Daging Sapi di Nganjuk Tembus Rp120 ribu Jelang Lebaran

 

 Emerensiana Jufianti Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya

Editor : Jauhar Yohanis
#kopi #wae rebo #pariwisata #pariwisata desa #ntt #kopi tradisional #manggarai