NGANJUK, JP Radar Nganjuk– Fenomena menjamurnya jasa penukaran uang di pinggir jalan Kabupaten Nganjuk ternyata menyimpan cerita panjang tentang rantai pasokannya.
Demi memenuhi permintaan warga menjelang Lebaran, para penjual di Nganjuk harus mendatangkan stok uang pecahan dari luar daerah, bahkan lintas pulau.
Sri, salah satu penyedia jasa penukaran uang, mengungkapkan bahwa uang pecahan yang ia jajakan bukan berasal dari bank lokal. Ia mendapatkan stok tersebut melalui jaringan pemasok besar atau "bos" yang membawa uang dari Kalimantan menuju Surabaya melalui jalur laut.
"Uangnya ini dari bos di Kalimantan. Dibawa ke Surabaya lewat pelabuhan, lalu saya mengambilnya ke sana (Surabaya) untuk dijual di sini," jelas Sri.
Meski perputaran uang terlihat besar, Sri mengaku keuntungan bersih yang didapatnya tergolong sangat kecil. Dari tarif jasa yang dikenakan kepada konsumen, sebagian besar merupakan setoran wajib kepada sang pemasok.
"Dari bos saja biaya jasanya sudah dipatok Rp 14 ribu per Rp 100 ribu. Saya hanya mengambil untung sekitar Rp 1.000 saja dari setiap transaksi penukaran," ungkapnya.
Bagi Sri, usaha ini adalah cara untuk menyambung hidup dan mencari penghasilan tambahan di bulan Ramadan. Di hari-hari biasa, perempuan ini menyambung hidup dengan berjualan kantong plastik keliling. "Daripada menganggur di rumah. Biasanya saya keliling jualan kresek," tambahnya dengan nada rendah.
Terkait kondisi pasar tahun ini, Sri menilai antusiasme masyarakat sedikit berbeda dibanding tahun lalu. Jika tahun sebelumnya permintaan sudah melonjak sejak dua pekan sebelum Lebaran, tahun ini kondisi pasar cenderung lebih stabil atau sedang-sedang saja.
Namun, berdasarkan pengalamannya, puncak keramaian biasanya baru akan terjadi pada detik-detik terakhir sebelum hari raya."Biasanya malam takbiran yang paling ramai. Saat itu orang sangat butuh uang pecahan untuk salam tempel, jadi berapa pun tarif jasanya pasti tetap diambil," pungkasnya.
Lapak jasa penukaran uang ini biasanya tetap setia melayani pelanggan mulai dari awal Ramadan hingga gema takbir berkumandang.
Editor : rekian