radarnganjuk.jawapos.com – Harapan warga Kabupaten Nganjuk untuk melihat harga ayam potong turun setelah lebaran tampaknya harus tertunda. Hingga Selasa (31/3), harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional Nganjuk terpantau masih betah di angka Rp 40 ribu per kilogram.
Kondisi ini tergolong tidak lazim. Biasanya, harga kebutuhan pokok—terutama daging ayam—akan langsung melandai atau kembali normal setelah puncak arus mudik dan balik Lebaran usai. Namun tahun ini, penurunan harga terbilang sangat lambat.
Pantauan Harga di Pasar Wage Nganjuk
Berdasarkan pantauan tim radarnganjuk.jawapos.com di Pasar Wage, aktivitas jual beli sebenarnya mulai kembali normal. Namun, para pedagang mengaku belum bisa menurunkan harga secara drastis karena modal dari pemasok masih tinggi.
Umi, 49, salah satu pedagang ayam di Pasar Wage, mengungkapkan bahwa harga sempat menyentuh titik tertinggi di angka Rp 42 ribu per kilogram saat Lebaran.
“Sekarang posisinya di Rp 40.000 per kilo. Hanya turun Rp 2.000 dari kemarin. Belum bisa turun banyak karena stok dari pengepul juga belum melimpah,” jelas Umi.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan harga ayam di Nganjuk tetap tinggi:
-
Pasokan Belum Stabil: Distribusi dari peternak ke pasar tradisional belum kembali normal 100%.
-
Permintaan Katering: Meski Lebaran usai, permintaan dari pelaku usaha kuliner dan katering hajatan di Nganjuk masih cukup tinggi.
-
Penyesuaian Modal: Pedagang masih menghabiskan stok lama yang dibeli dengan harga tinggi saat puncak Lebaran.
Keluhan Konsumen dan Siasat Belanja
Tingginya harga komoditas ini tentu membebani isi dompet masyarakat. Nur Aini, 35, warga Kecamatan Nganjuk, mengaku terpaksa memutar otak agar dapur tetap ngebul tanpa harus menguras kantong.
“Masih beli ayam karena anak-anak suka, tapi jumlahnya dikurangi. Kalau biasanya beli satu kilo, sekarang beli setengah saja. Sisanya ganti lauk lain sampai harganya normal lagi,” keluh Nur.
Kapan Harga Ayam Akan Turun?
Para pedagang memprediksi tren penurunan harga baru akan terasa signifikan dalam satu hingga dua minggu ke depan. Hal ini bergantung pada kelancaran distribusi dari peternak dan kembalinya pola konsumsi harian masyarakat yang biasanya menurun setelah masa libur panjang.
Editor : rekian