NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Jelajah Desa Unik Kota Angin (68) Dalang Wayang Timplong Keturunan Mbah Bancol Wayang Timplong telah menjadi pertunjukkan tradisional yang sederhana namun penuh makna. Yang kebanggaan warga Kota Angin ini tidak bisa dipelajari sembarangan. Untuk menjadi dalang Wayang Timplong, hanya bisa diturunkan melalui Mbah Bancol.
“Seperti saya, tidak langsung dari Mbah Bancol. Tetapi dapat dari keturunannya mulai anak, ke cucunya, hingga sampai ke saya,” aku Suyadi, salah satu dalang Wayang Timplong asal Desa Kepanjen, Pace. Dalang yang kini berusia 57 tahun itu mengatakan, dapat ilmu mendalang dari dari mendiang ayahnya, bernama Talam. Sementara, Mbah Talam mendapatkan ilmu dari keturunan ketiga Mbah Bancol bernama Mbah Trawar.
Baca Juga: Mengenal Nama Dusun dan Desa Unik di Kota Angin (35) Desa Nglundo Punya Sumur Berusia Ratusan Tahun
Sebelum menjadi dalang, Mbah Talam dulunya adalah penabuh kendang Wayang Timplong. Dia selalu ikut kemanapun Mbah Trawar menggelar pertunjukkan Wayang Timplong. Dari situlah, Mbah Talam menimba ilmu untuk menjadi mendalang. “Bapak saya (Mbah Talam, Red) masih sepupu dengan Mbah Trawar,” ungkap Yadi.Orang lain yang merupakan kerabat dari Mbah Bancol tetap bisa menjadi dalang Wayang Timplong. Hanya saja butuh waktu yang lama untuk belajar. “Pernah ada dalang wayang lain, yang coba berlatih Wayang Timplong. Namun kesulitan. Karena dia belajar sendiri. Kalau kata orang-orang, rasanya itu beda,” ungkap Yadi.
Hingga kemarin, lanjut Yadi, ada dua dalang Wayang Timplong yang saat ini masih eksis. Selain dirinya, ada pula keturunan dari Mbah Maelan yang berada di Desa Getas, Kecamatan Tanjunganom. “Mbah Maelan itu dulu sepantaran dengan ayah saya. Yang sama-sama belajar dari Mbah Trawar cucu dari Mbah Bancol,” ungkapnya.
Baca Juga: Mengenal Dusun dan Desa Unik di Kota Angin (89) Warga Luar Daerah Berdoa di Sumur Gede Tanjungtani
Saat ini, dia mengaku kesusahan mencari penerus dalang Wayang Timplong. Sampai saat ini, anak lelakinya, belum menunjukkan minat untuk menekuni wayang. Apalagi anaknya menjadi prajurit TNI. “Harapan saya, pas pulang tetap berlatih. Seperti masa kecilnya dulu. Ya, enggak apa-apa toh kalau TNI juga senang dengan kesenian wayang,” ungkap bapak dua anak itu.
Yang masih dijaga keasliannya dari Wayang Timplong ini adalah hubungan keluarga. Ada efek yang terus melekat ketika satu keluarga ingin melestarikan wayang dari Dusun Kedungbajul, Desa Gemenggeng, Kecamatan Pace tersebut.