NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Pemkab Nganjuk memiliki peran besar dalam melestarikan Wayang Timplong. Untuk mengenalkan karya seni asli Nganjuk itu ke generasi muda, wayang ciptaan Mbah Bancol itu kini sudah masuk ke mata pelajaran muatan lokal dan sejarah di sekolah-sekolah.
“Kesenian asli Nganjuk ini tidak boleh ditelan zaman. Dan hanya berakhir menjadi cerita saja,” tegas Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk Sri Handariningsih melalui Kabid Kebudayaan Amin Fuadi.
Langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk untuk memasukkan sejarah dan pengenalan Wayang Timplong adalah upaya untuk tetap melestarikan karya seni asli Kota Anin. Untuk memperkuat pengetahuan wayang dari kayu itu, Balai Pelestari dan Arsip dari Jogjakarta, Kementerian Pendidikan sudah melakukan studi pada 2018 lalu.
Upaya lain yang dilakukan Pemkab Nganjuk untuk mempopulerkan Wayang Timplong tersebut adalah dengan cara memberi panggung pemainnya untuk tampil. Seperti memperbanyak tampil di pendapa.Jadi ada harapan dari para pemain wayang, penampilannya tidak hanya setiap peringatan Hari Kemerdekaan saja.
Tetapi digelar setiap pemkab melaksanakan hajatan.
Seperti diketahui, wayang ini banyak dimainkan saat ada nyadran di desa-desa. Amin mengatakan, saat ini masih ada 4 dalang Wayang Timplong yang masih eksis. Dua diantaranya masih ada keturunan kerabat dari penemu Wayang Timplong, Mbah Bancol.
Regenerasi dalang Wayang Timplong, pun, menurut Amin mulai berkurang. Salah satunya karena upaya untuk mencintai kesenian juga sudah mulai turun. Namun hal itu tidak boleh menjadi alasan Wayang Timplong menjadi sulit digemari. “Upaya untuk terus melestarikan budaya itu harus terus dilakukan. Tidak hanya dari dalang dan penabuh kendang tapi juga dari masyarakat,” ungkap Amin.
Yang kini menjadi tantangan adalah, menciptakan dalang-dalang baru. Sebab, syarat utama untuk menjadi dalang adalah mencintai seni wayang. “Dari zaman orang tua saya dan para pendahulu. Semua berangkat dari kecintaan mereka dalam kesenian wayang. Tidak boleh dipaksa,” ungkap Suyadi, dalang Wayang Timplong asal Desa Kepanjen, Pace.
Karena Wayang Timplong adalah salah satu kesenian asli Kota Angin, sudah seharusnya bisa menjadi ikon kesenian yang bisa ditampilkan saat ada kegiatan besar. Wayang ini pun mulai tampil di luar Nganjuk. Di antaranya, digelar di Mojokerto dan di Kesultanan Surakarta/Solo beberapa tahun yang lalu.
Editor : Redaksi Radar Nganjuk