NGANJUK, JP Radar Nganjuk– Museum Geologi Bandung mengecek batu yang diduga meteorit di Desa Mojorembun, Kecamatan Rejoso kemarin. Ada tiga batu yang ditemukan Suprianto, 43, warga Desa Mojorembun. Sebanyak lima orang dari Museum Geologi Bandung yang mengecek tiga bongkahan batu yang berwarna hitam tersebut. Pengecekan dilakukan menggunakan X-ray fluorescence (XRF). “Ada kandungan silika dan besi,” ujar Ketua Tim (Katim) Penyelidikan, Konservasi, dan Koleksi Museum Geologi Bandung Unggul Prasetyo Wibowo.
Dengan hasil tersebut, tiga bongkahan batu itu kemungkinan besar bukan meteorit. Karena jika meteorit, kandungan batu tersebut adalah nikel. Namun demikian, Unggul mengaku belum bisa memastikan apakah batu itu meteorit atau tidak. Karena XRF tidak bisa menjangkau terlalu dalam. Hanya permukaan batu saja.
Untuk itu, Unggul mengatakan, akan membawa batu itu ke Museum Geologi Bandung. Di sana, akan dilakukan pengecekan yang lebih mendalam. Sehingga, bisa dipastikan batu itu meteorit atau tidak.
Sementara itu, Suprianto, pemilik tiga batu yang diduga meteorit tidak mempersoalkan jika batu yang ditemukan di hutan itu dibawa ke Museum Geologi Bandung. Karena dia juga ingin memastikan apakah batu itu meteorit atau tidak. “Saya setuju karena batu itu untuk bahan penelitian,” ujarnya.
Sejak menemukan batu yang diduga meteorit, Suprianto membuka pintu lebar-lebar kepada siapa saja yang ingin melihatnya. Dia juga melaporkan penemuan itu ke Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk. Kemudian, disporabudpar mengecek dan melaporkan ke Museum Geologi.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Redaksi Radar Nganjuk