Der..derrr…derrrr… Smartphone Centil (bukan nama sebenarnya, Red) bergetar. Seketika, jari cewek yang lagi cari pacar itu langsung membuka dating apps yang baru di-download di playstore dua bulan lalu. Ternyata, ada pesan masuk. Ada salah satu akun pengguna dating apps yang sama dengan dia sedang mengirimkan pesan. “Alo alooo,”
Centil pun membalas. “Nama kamu xxxx yh?” tanya Centil. Setelah itu, obrolan berlanjut. Mulai dari mengajak berteman di media sosial, seperti Instagram dan TikTok. Kemudian, chat berlanjut beberapa hari. Namun, tidak lagi lewat dating apps. “Biasanya kita ngobrol lewat medsos yang sudah saling berteman,” ungkap Centil.
Menurut cewek yang baru berusia 16 tahun asal Kabupaten Nganjuk ini, dating apps yang digunakan adalah ‘Bumble’. Di aplikasi ini, ada aturan yang harus dipenuhi. Pengguna cewek harus memulai obrolan lebih dulu. “Kalau Bumble itu yang cewek harus chat duluan,” ungkapnya.
Baca Juga: Banyak Pelajar Nganjuk Jadi Korban Ghosting Pengguna Dating Apps, Ini Pengakuannya
Selain Bumble, Centil juga punya dating apps yang lain. Ada Tinder, Tantan, Litmatch, Badoo, dan Omi. Semuanya didownload di playstore. “Sebenarnya banyak dating apps yang lain, cuma yang populer itu lima aplikasi itu,” ungkapnya.
Untuk aplikasi seperti Tinder, Tantan, Litmatch, Badoo, dan Omi berbeda dengan Bumble. Yang chat duluan tidak harus sang cewek. Namun, cowok atau cewek bisa chat duluan. Asalkan, mereka sudah sepakat tertarik dengan melakukan swipe ke kanan untuk foto akun yang ditampilkan.
Centil mengatakan, dengan memiliki Dating Apps tersebut, dia tidak lagi bingung cari pacar. Tidak perlu nongkrong di kafe atau berharap pada teman sebagai Mak Comblang. Karena dengan aplikasi tersebut, dia bisa mencari pacar sesuai dengan kriterianya. “Di dating apps itu, ciri fisik, hobi, zodiak, pendidikan, hingga pekerjaan atau profesinya ada semua. Termasuk, foto pengguna dating apps itu,” ungkapnya.
Baca Juga: Mengenal Komunitas Pantomim Nganjuk, Menghibur dan Sampaikan Pesan Moral tanpa Berbicara
Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Nganjuk Roni S. Sya’roni mengatakan, di era digital saat ini semua orang tidak bisa menghindar dari teknologi. Termasuk, pelajar. Hanya saja, penggunaan aplikasi kencan online atau dating apps bagi pelajar menurutnya tidak patut dilakukan. Karena usia mereka masih di bawah umur atau di bawah 17 tahun. “Pastinya mengganggu konsentrasi belajar karena selalu memikirkan dating apps saat di sekolah maupun di rumah,” ujarnya.
Selain itu, menurutnya dating apps membuat seseorang mengurangi interaksi secara langsung dengan teman maupun keluarga. Karena dating apps mendekatkan yang jauh tetapi menjauhkan yang dekat. “Untuk pelajar dating apps ini tidak cocok,” tandas Roni.
Editor : Redaksi Radar Nganjuk