Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Tukang Pijat Penghafal Alquran yang Berjuang Hidupi Kakak dan Adik

Karen Wibi • Senin, 8 September 2025 | 13:35 WIB

TUNANETRA PENGHAFAL ALQURAN: Abdur Rohim (paling kanan) beserta Kamitin, kakaknya dan Kasri, adiknya yang juga tunanetra. Rohim dikenal sebagai hafidz.
TUNANETRA PENGHAFAL ALQURAN: Abdur Rohim (paling kanan) beserta Kamitin, kakaknya dan Kasri, adiknya yang juga tunanetra. Rohim dikenal sebagai hafidz.

Melihat Semangat Keluarga Tunanetra Nganjuk di Hari Literasi Internasional 

Semangat Abdur Rohim untuk belajar menghafal Alquran patut diacungi dua jempol. Meski kedua matanya tidak bisa melihat sejak lahir dan tidak mengenal huruf braille tetapi Rohim gigih menghafal Alquran. Hasilnya, dia menjadi salah satu tunanetra yang menjadi hafidz atau penghafal Alquran di Kota Angin.

Lantunan ayat-ayat suci Alquran terdengar merdu di dalam rumah kayu berukuran 3 meter x 5 meter. Terlihat, pria yang berusia 58 tahun penyandang tunanetra sedang melantunkan Surat Ali Imran ayat 144. Dia adalah Abdur Rohim. Di depan Rohim, duduk dua perempuan, yaitu Kamitin, 60 dan Kasri, 54. Setelah Rohim melantunkan ayat-ayat suci Alquran, kedua perempuan itu menirukannya. "Mbak Kamitin ini kakak saya dan Kasri ini adik saya sedang belajar menghafal Alquran" ujar Rohim.

Rohim bersama Kamitin dan Kasri tinggal serumah di Dusun Tondowesi, Desa Pule, Kecamatan Jatikalen. Ironisnya, ketiganya sama-sama tunanetra. Rohim, Katimin, dan Kasri tidak bisa melihat keindahan dunia dengan kedua matanya sejak lahir. Namun hal itu tidak menjadikan mereka menyerah pada kehidupan. Sebaliknya, banyak kemampuan yang terus dilatih ketiganya. Salah satunya adalah menghafal Alquran. Hasilnya, Rohim dikenal masyarakat sebagai  hafidz atau penghafal Alquran.

Baca Juga: Wayang Orang Jadi Ajang Reuni

Uniknya, cara belajar menghafal Alquran Rohim tidak seperti orang normal. Dia belajar menghafal Alquran dengan cara mendengarkan. Saat masih kecil, dia diajak teman-temannya ke musala. Saat itu, dia mendengarkan teman-temannya membaca Alquran. Karena Rohim tidak bisa melihat, otomatis dia tidak belajar membaca Alquran. Apalagi, Rohim juga tidak mengenal huruf braille. "Saya hanya mendengarkan dan menghafalkannya," kenangnya.

Setiap hari mendengarkan ayat-ayat suci Alquran membuat hati Rohim tenang. Hal itu membuatnya semakin bersemangat menghafal Alquran. "Rasanya ayem hati kalau mendengarkan dan menghafal Alquran itu," ungkapnya.

Setiap hari, Rohim menghafal Alquran. Bahkan, saat usianya sekarang menginjak 58 tahun dan dia dikenal sebagai hafidz di kampungnya, Rohim tetap menghafal Alquran. Dia jadi sering diundang ke acara pernikahan, khitanan, atau pengajian. Tugasnya melantunkan ayat-ayat suci Alquran.

Baca Juga: 40 Hari Mengabdi di Babadan Pace Nganjuk, Mahasiswa ITS Glorifikasi Literasi dari Anak-anak hingga Ibu-ibu

Namun, jika tidak ada job. Rohim kembali ke job utamanya. Yaitu, jadi tukang pijat tunanetra.  "Kalau saya tidak lagi memijat. Saya gunakan waktu untuk menghafal Alquran," ujarnya. 

Pekerjaan sebagai tukang pijat tunanetra inilah yang jadi sumber utama pendapatannya. Apalagi, Rohim juga harus menanggung biaya hidup Katimin dan Kasri. Keduanya belum menikah dan tinggal serumah dengan Rohim yang berstatus duda dua anak. Kedua anak Rohim tidak tinggal dengannya. Mereka tinggal di Patianrowo.

Setiap hari, aktivitas Rohim selain jadi tukang pijat adalah menghafal Alquran serta mengajari Kamitin dan Kasri. "Saya ingin kedua adik saya juga bisa menghafal Alquran," ujarnya. (wib/tyo)

 

Editor : Miko
#Berjuang #tukang pijat #penghafal al quran #nganjuk #tunanetra #literasi nasional