GRATIS: Yunita Nurmalasari membacakan dongeng pada anak-anak di Teras Baca Lentera Cita.
Melihat Perjuangan Yunita Nurmalasari, Pendiri Teras Baca Lentera Cita
Perjuangan Yunita Nurmalasari patut diacungi jempol. Yunita mendirikan taman baca bernama Teras Baca Lentera Cita. Tujuannya untuk memberikan akses pengetahuan gratis ke masyarakat kurang mampu di Kecamatan Wilangan.
KAREN WIBI-NGANJUK, JP Radar Nganjuk
RUMAH Yunita Nurmalasari jauh dari kata mewah. Bangunan yang berada di Desa/Kecamatan Wilangan itu mayoritas masih terbuat dari papan kayu. Meski demikian, setiap harinya, rumah tersebut selalu dikunjungi oleh belasan anak-anak. Bukan hanya untuk sekadar bermain. Melainkan untuk membaca buku. Ya benar, anak-anak itu datang ke rumah Yunita untuk membaca buku. Karena memang, sejak 2021 lalu, Yunita membangun taman baca di rumahnya. Namanya adalah Teras Baca Lentera Cita. “Anak-anak datang ke sini untuk bermain, belajar, membaca buku, dan masih banyak yang lainnya,” ujarnya kepada wartawan koran ini.
Taman baca yang sudah berdiri sejak 2021 itu sendiri bermula ketika Yunita sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kala itu, karena pandemic Covid-19, KKN dilakukan di masing-masing desa. Kebetulan, perempuan yang kini berusia 27 tahun itu memiliki koleksi banyak buku. Ditambah dirinya sangat gemar mengajar anak-anak kecil. “Saya jurusan Pendidikan Agama Islam. Saya juga sangat suka mengajar anak-anak,” tambahnya.
Saat pertama dibuka, jumlah kunjungan di taman baca itu cukup banyak. Bahkan kunjungan tidak hanya berasal dari Desa Wilangan. Melainkan dari desa sekitar. Sehingga, taman baca tersebut bisa bertahan hingga saat ini.
Sayangnya, saat mulai ramai, jumlah koleksi buku di taman baca itu kurang. Karena memang buku-buku tersebut mulanya berasal dari koleksi pribadi Yunita. Beruntung, setelah beberapa tahun kemudian, banyak donatur yang menyumbang buku di taman baca. Bahkan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) juga pernah menyumbang 1.000 buku ke taman baca tersebut. “Alhamdulillah banyak orang yang peduli dengan taman baca di sini. Sekarang kami memiliki ribuan koleksi buku. Mayoritas adalah buku anak-anak,” tandasnya.
Lalu apa alasan Yunita tetap mempertahankan taman baca tersebut? Menanggapi pertanyaan itu, Yunita menjelaskan jika dirinya berniat untuk memberi akses pengetahuan gratis ke anak-anak sekitar.
Menurut Yunita, minimnya tingkat literasi di Kabupaten Nganjuk tidak hanya terjadi karena rendahnya minat membaca. Melainkan juga karena sulitnya akses dari masyarakat ke buku. “Sulitnya akses itu bisa terjadi karena tidak adanya perpustakaan daerah atau buku yang terlalu mahal untuk dibeli,” tandasnya.
Untuk mengatasi masalah itu, Yunita ingin memberi akses pengetahuan ke masyarakat dengan gratis. Orang-orang yang datang ke taman baca tidak dipungut biaya. Mereka juga gratis jika ingin meminjam buku-buku koleksi di taman baca tersebut. “Jadi saya ingin memberikan akses itu. Ketika akses mudah, saya percaya tingkat literasi masyarakat dapat meningkat,” tandasnya. (wib/tyo)