GENERASI KE EMPAT: Nilunda Arsy Parahita, pemilik tempat Kerajinan Gamelan Mustika Laras. Kualitas gamelan membuat sentra gamelan di Kecamatan Loceret ini masih eksis.
Melihat Sentra Kerajinan Gamelan Mustika Laras di Loceret
Kabupaten Nganjuk memiliki tempat kerajinan gamelan yang karyanya sudah sangat terkenal. Namanya adalah Kerajinan Gamelan Mustika Laras di Desa Jatirejo, Kecamatan Loceret. Bahkan, sentra kerajinan gamelan tersebut sudah bertahan hingga diturunkan ke generasi keempat.
KAREN WIBI-NGANJUK, JP Radar Nganjuk
“Tung…tung…tung….”. Bunyi nyaring itu terdengar dari salah satu rumah yang ada di Desa Jatirejo, Kecamatan Loceret. Bunyi yang berasal dari hantaman dua benda logam itu biasanya terdengar dari pagi hingga siang hari. Namun, di beberapa waktu tertentu, bunyi itu terdengar hingga sore bahkan malam hari.
Warga sekitar sudah sangat paham dengan bunyi itu. Saat bunyi mulai terdengar, artinya ada orang-orang yang sedang membuat gamelan di sentra kerajinan gamelan. Orang-orang menyebut tempat itu sebagai Kerajinan Gamelan Mustika Laras.
Ya, rumah yang berada di Desa Jatirejo itu menjadi sentra pembuatan gamelan. Bahkan proses pembuatan gamelan di tempat itu sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. “Awal pembuatan gamelan di tempat ini dimulai sejak tahun 1959,” ujar Nilunda Arsy Parahita, 22, pemilik tempat Kerajinan Gamelan Mustika Laras.
Perempuan yang akrab disapa Nilunda itu menceritakan, tempat pembuatan gamelan miliknya itu sudah berdiri sejak tahun 1959. Adalah sang kakek buyut yang memulai bisnis pembuatan gamelan itu. Dia adalah Harjo Prawiro atau yang juga dikenal dengan nama Pawiro Gudel. Kini bisnis tersebut sudah diturunkan hingga ke generasi keempat.
Kala itu, sang kakek buyut, adalah seorang seniman. Namun alih-alih menjadi pemain gamelan, Prawiro malah memilih untuk menjadi seorang pembuat gamelan. Singkat cerita gamelan miliknya mulai dikenal oleh masyarakat sekitar. Hingga Prawiro kebanjiran pesanan hingga saat ini. “Karena selalu ramai, akhirnya bisnis ini diteruskan ke anak cucunya,” tandasnya perempuan yang lulus Sarjana Sastra di salah satu universitas di Kota Surabaya tersebut.
Kini bisnis tersebut dipegang oleh Nilunda. Meski masih muda, Nilunda mengatakan dirinya sangat antusias meneruskan bisnis peninggalan sang kakek buyut. Karena memang, sejak kecil, Nilunda sangat tertarik dengan dunia gamelan. “Keluarga kami memang keturunan seni. Salah satunya ya saya, saya sangat senang dengan dunia gamelan,” tandasnya.
Tentu mengurus bisnis di usia muda bukan perkara mudah. Terlebih dirinya harus mengurus banyak pesanan setiap bulannya. Beruntung Nilunda selalu dikelilingi oleh banyak orang profesional. Bahkan masih banyak karyawan peninggalan sang kakek buyut yang bekerja hingga saat ini. “Mayoritas karyawan kami di sini sudah bekerja sampai puluhan tahun,” imbuhnya.
Kini Nilunda sedang fokus untuk menangani banyak pesanan gamelan. Karena diketahui pesanan di tempat miliknya tidak hanya berasal dari Indonesia. Melainkan hingga ke luar negeri. Bahkan, dalam bulan ini, Nilunda harus mengirim beberapa set gamelan ke Singapura. “Untuk satu set gamelan harganya bervariasi. Dari sekitar Rp 80 juta hingga Rp 350 juta,” pungkasnya. (tyo)