Kisah Pilu Srikus Yanti dan Nayla, Ibu-Anak Asal Nganjuk yang Tewas Terbakar di Jombang Usai Pamit ke Nenek
Novanda Nirwana• Selasa, 3 Maret 2026 | 03:39 WIB
TAKZIAH: Petakziah mendoakan Yanti dan Caira anaknya.
JP Radar Kediri- Kepergian Srikus Yanti, 36 dan putrinya, Nayla Caira Qonila, 5 untuk selamanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga di Desa Balonggebang, Kecamatan Gondang. Tangis pecah di sela-sela doa para petakziah yang silih berganti datang ke rumah duka. Di halaman depan yang dipenuhi wajah berbelasungkawa. Termasuk Suwarti, ibu mertua Yanti dan nenek Caira.
Bagi Suwarti, kehilangan ini bukan sekadar kabar duka. Nenek berusia 58 tahun ini seperti kehilangan dua bagian hatinya sekaligus. “Saya ya sayang sama Yanti seperti anak sendiri,” ucapnya pelan, matanya berkaca-kaca.
Suwarti tak pernah menduga menantu dan cucunya yang dikenalnya ceria dan penuh canda itu harus pergi dengan cara yang begitu tragis. Selama ini, di matanya, Yanti adalah sosok perempuan baik. Dia mudah bergaul dan punya banyak teman.
“Orangnya itu ceria. Sering guyon,” kenangnya. Justru itu yang membuat Suwarti semakin tak mengerti. Jika memang ada beban hidup yang dipikul Yanti, tak pernah sekali pun diceritakan kepadanya. Padahal, sebagai orang tua, ia sebenarnya ingin menjadi tempat bersandar. “Saya sebenarnya pengin diajak cerita, curhat. Tapi Yanti nggak pernah cerita soal masalah hidupnya,” tuturnya.
Dalam keseharian, hubungan keduanya terjalin hangat. Yanti kerap menyapa dengan nada ringan. “Sesok wulan opo mak? Sesok kerjo nyang ndi mak?” begitu biasanya Yanti bertanya tentang rencana hari esok atau pekerjaan sang ibu mertua.
Sementara itu, Caira kecil punya kebiasaan yang selalu membuat Suwarti tersenyum. Hampir setiap hari, bocah lima tahun itu menghampirinya dengan permintaan sederhana. “Mak, minta uang buat beli jajan,” tiru Suwarti.
Permintaan kecil itu kini hanya tinggal kenangan. Tak ada lagi tangan mungil yang menengadah manja. Kehilangan cucu terasa begitu menyesakkan. Setiap sudut rumah menyimpan ingatan.
Di tengah duka yang belum usai, Suwarti hanya bisa mengenang Yanti sebagai menantu yang baik dan penyayang. Ia tak ingin mengingat peristiwa tragis yang merenggut keduanya, melainkan hari-hari biasa yang dulu terasa sederhana namun penuh arti. “Yanti itu baik. Saya nggak nyangka sama sekali,” ucapnya pelan.
Di tengah duka yang belum usai, keluarga berharap seluruh rangkaian peristiwa yang merenggut nyawa Yanti dan putrinya segera terungkap dengan terang. Mereka ingin mengetahui kebenaran yang sebenarnya, agar kepergian keduanya tidak menyisakan tanda tanya. (novanda nirwana)