Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Kisah Tamping Dapur Rutan Kelas IIB Nganjuk: Melek Sepanjang Malam demi Pastikan Teman Senasib Bisa Sahur

Novanda Nirwana • Rabu, 11 Maret 2026 | 18:05 WIB

 

Rudianto, tamping dapur harus menyiapkan menu ramadan
Rudianto, tamping dapur harus menyiapkan menu ramadan

Di balik tembok tinggi Rutan Kelas IIB Nganjuk, ada aktivitas yang tak pernah benar-benar berhenti, terutama saat Ramadan tiba. Ketika sebagian warga binaan masih terlelap, lampu dapur rutan justru sudah menyala. Di ruangan itulah Rudianto, memulai rutinitasnya sebagai tamping dapur.

NOVANDA NIRWANA – NGANJUK, JP Radar Nganjuk

"Setiap malam tidak tidur saat puasa karena harus menyiapkan menu sahur, " ujar Rudianto, tamping dapur asal Bojonegoro. Dia menjadi salah satu orang yang bertanggung jawab menyiapkan makanan bagi ratusan warga binaan. Sudah empat bulan terakhir ia dipercaya membantu di dapur rutan, meski masa tinggalnya sebagai warga binaan baru berjalan sekitar sembilan bulan.
Bagi Rudianto, memasak sebenarnya bukan hal baru. Sebelum menjalani masa hukuman karena kasus pencurian, dia pernah bekerja membantu warung penyetan saat merantau di Makassar. Pengalaman itulah yang membuatnya tidak canggung ketika harus mengolah berbagai menu dapur rutan.

Baca Juga: Selama Ramadan, Rutan Nganjuk Batasi Kunjungan dan Larang Bawa Sarapan
Rutinitasnya di dapur berubah selama Ramadan. Jika biasanya kegiatan memasak dimulai pagi hari, kini ia harus bekerja lebih malam. Sekitar pukul 21.00 WIB, aktivitas dapur sudah dimulai untuk menyiapkan santap sahur warga binaan.
Perubahan jadwal itu membuat pola istirahatnya ikut bergeser. Rudianto harus mengganti waktu tidur malam hari ke siang hari agar tetap bugar saat bekerja di dapur.
Meski demikian, dia mengaku menikmati pengalaman barunya sebagai tamping dapur. Menurutnya, tidak ada menu yang terlalu sulit dimasak. Namun, ada beberapa masakan yang membutuhkan waktu lebih lama.
Salah satunya sayur daging. Menu itu harus melalui dua tahap pengolahan sebelum siap disajikan.
“Kalau yang paling lama masaknya sayur daging, karena harus dua kali proses. Direbus dulu, baru dimasak lagi,” ungkapnya.
Tantangan lain justru muncul saat Ramadan. Para tamping dapur tidak bisa mencicipi masakan karena sedang berpuasa. Untuk memastikan rasanya tetap pas, mereka mengandalkan takaran bumbu yang sudah dihafal.

Baca Juga: Rutan Kelas IIB Alami Overload di Awal 2026
“Kalau Ramadan kan tidak dicicipi. Tapi sudah ada takarannya sendiri, lama-lama juga hafal,” jelasnya.
Ramadan tahun ini menjadi pengalaman pertama Rudianto menjalani ibadah puasa di dalam rutan. Ia mengaku ada rasa rindu yang sulit dihindari, terutama kepada keluarga di kampung halaman.
“Terus terang ya kangen keluarga. Tapi ya dijalani saja,” ucapnya.
Di dapur rutan, tugasnya tidak hanya memasak. Ia juga memastikan makanan cukup untuk seluruh warga binaan. Bagi Rudianto, kepuasan sederhana datang ketika makanan yang ia masak bisa dinikmati banyak orang.
Selama ini, menurutnya, jarang ada keluhan soal rasa. Warga binaan lebih memikirkan kecukupan makanan dibandingkan kelezatan.
“Teman-teman warga binaan tidak ada yang komen soal rasa. Yang penting kenyang,” ujarnya. (tyo)

Editor : rekian
#rutan nganjuk #Rutan Kelas II B #ramadan #Kabupaten Nganjuk #warga binaan #lapas nganjuk #memasak