KAMPUNG Gerabah di Dusun Babadan, Desa Gemenggeng, Kecamatan Bagor menjadi jujugan banyak warung makan penyetan di Kota Angin. Kebanyakan mereka mencari layah untuk dijadikan wadah makanan.
Hal itu seperti yang dikatakan oleh Karmiati, 60, salah satu pembuat gerabah di Dusun Babadan. Dia mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir, permintaan untuk layah di Kampung Gerabah meningkat pesat. “Sekarang yang paling ramai pesanan adalah layah. Kebanyakan adalah warung penyetan,” ujarnya.
Baca Juga: Tragedi Cinta Terlarang: Kalap karena Cemburu, Kekasih Gelap Tewas di Tangan Pasangan
Selain layah, menurut Karmiati, pembeli yang biasa datang ke Kampung Gerabah adalah untuk mencari penyangrai wajan. Wajan tersebut bisa digunakan untuk menyajikan banyak biji-bijian. Mulai dari biji kopi, kedelai, kacang, dan masih banyak lainnya. Mayoritas mereka berasal dari usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Nganjuk.
Sedangkan untuk gerabah lainnya, menurut Karmiati, sudah ada pengepul yang sering datang. Setiap harinya pengepul itu akan mengambil gerabah dari satu rumah ke rumah lainnya.
Dari pengepul, menurut Karmiati, gerabah-gerabah miliknya akan dijual di banyak pasar di Kabupaten Nganjuk. Mulai dari Kecamatan Kertosono, Nganjuk, bahkan hingga ke Wilangan.
Gerabah-gerabah itu dijual dengan harga yang bervariasi. Seperti untuk layah dihargai Rp 7 ribu. Lalu kendil dan cobek dihargai Rp 5 ribu. Sedangkan yang paling mahal adalah wajan untuk menyanrai. Yakni dihargai Rp 10 ribu.
Baca Juga: Nganjuk Punya Genteng dan Batu Bata dari Desa Betet-Kaloran yang Jadi Primadona hingga Luar Kota
“Untuk setiap barangnya kami bisa mengambil keuntungan Rp 3 ribu sampai Rp 5 ribu,” tambahnya.
Editor : rekian