Ada sebuah kampung unik di Kabupaten Nganjuk. Orang-orang menyebutnya dengan Kampung Gerabah. Lokasinya ada di Dusun Babadan, Desa Gemenggeng, Kecamatan Bagor. Di sana terdapat belasan pembuat gerabah yang eksis sejak zaman penjajahan Belanda.
Nganjuk tidak pernah kehabisan kampung unik. Terakhir, di Kecamatan Bagor, terdapat sebuah kampung unik yang sudah berdiri sejak ratusan tahun lalu. Orang-orang menyebutnya dengan Kampung Gerabah. Karena memang, di kampung yang berada di Dusun Babadan, Desa Gemenggeng, Kecamatan Bagor terdapat banyak pembuat gerabah.
Baca Juga: Bukan Lampu Ajaib, Tapi 'Aladin' yang Jaga Lalu Lintas Nganjuk 24 Jam Nonstop!
Ciri khas Kampung Gerabah bahkan sudah terlihat dari hanya pandangan mata. Di sepanjang jalan, setiap pagi hingga siang hari, terdapat ratusan gerabah yang dijemur. Untuk selanjutnya akan dibakar dan siap dijual.
"Dari tahun berapa? Kurang lebih ya sudah sangat lama. Mungkin sudah dari zaman penjajahan Belanda," ujar Karmiati, 60, salah satu pembuat gerabah di Dusun Babadan.
Baca Juga: Cerita Mbah Karmiati: Meraup Cuan Ribuan Rupiah dari Larisnya Layah Warung Penyetan
Benar sekali, Kampung Gerabah sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Apalagi jika tidak salah mengingat, pembuatnya juga sudah memasuki generasi ketiga hingga keempat. Sedangkan Karmiati baru menggeluti usaha kerajinan gerabah sejak sekitar 30 tahun lalu. Kala itu dirinya harus meneruskan bisnis orang tua. Alhasil, mau tak mau, Karmiati akhirnya menjadi seorang pembuat gerabah.
Gerabah yang dibuat Karmiati dan belasan pengrajin lainnya sangat bervariasi. Mulai dari cobek atau ulekan, kendil, layah, hingga wajan untuk menyangrai. “Semua gerabah itu dikerjakan secara manual setiap harinya,” tambahnya.
Baca Juga: Tragedi Cinta Terlarang: Kalap karena Cemburu, Kekasih Gelap Tewas di Tangan Pasangan
Pekerjaan dimulai dengan mencari tanah liat. Tanah liat yang digunakan asalnya dari Dusun Babadan sendiri. Lokasinya ada di sepanjang aliran Sungai Widas. Setelah mendapat tanah liat, para pengrajin akan mulai membuat adonan bahan. Mencampurkan antara tanah liat dengan tanah merah.
Adonan itu lalu dibentuk di sebuah meja putar. Setelah selesai, gerabah setengah jadi akan dijemur. Dari pagi hingga siang. Hingga sore harinya gerabah tersebut akan dibakar. Baru setelah itu gerabah bisa dijual di pasar. “Satu hari bisa menghasilkan sekitar 10 sampai 20 gerabah. Tergantung jenisnya,” imbuhnya.
Hal serupa juga dilakukan oleh Tarsi. Perempuan berusia 58 tahun itu mengatakan setiap harinya dia membuat wajan penyangrai. Total ada 10 wajan yang bisa dia buat per harinya. “Wajan yang dibuat memang sedikit. Karena memang kami punya alat manualnya,” ujarnya.
Editor : rekian