Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Nestapa Warga Kapas: Terpaksa Sahur di Tengah Kepungan Banjir Tanggul Jebol

Karen Wibi • Kamis, 19 Maret 2026 | 04:45 WIB

 

Warga Kelurahan Kapas saat menunggu banjir surut di rumahnya
Warga Kelurahan Kapas saat menunggu banjir surut di rumahnya

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Warga di Kelurahan Kapas, Kecamatan Sukomoro harus makan sahur saat banjir. Karena air Sungai Kapas yang merupakan anak Sungai Kuncir meluap. Akibatnya, udara masuk puluhan rumah warga. Ketinggian udara hingga satu meter.

Tiga kepala keluarga (KK) harus dievakuasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nganjuk. Karena udara mencapai satu meter. Kemudian, di tiga rumah itu ada balita. “Kantor Kelurahan Kapas dan warga di enam RW terendam,” ujar Lurah Kapas Rini Margowati kepada wartawan koran ini.

Baca Juga: Melihat Sentra Pembuatan Gerabah di Bagor: Perajinnya Generasi Keempat karena Ada sejak Zaman Belanda  

Banjir di Kelurahan Kapas ini di luar dugaan. Karena sebelumnya telah dilakukan perbaikan bendungan Kapas dan perbaikan sungai senilai Rp 1,1 agar air anak Sungai Kapas tidak meluap pada akhir tahun.

Hasilnya, beberapa kali hujan deras, Kelurahan Kapas aman. Namun, kondisi berbeda pada Senin malam (16/3), tanggul Sungai Kapas jebol. Akibatnya, udara meluap. Lokasi permukiman ada wilayah barat Lingkungan Kapas. Tepatnya berada di sisi sungai Selatan.

“Ada dua tanggul sungai yang jebol,” tambahnya.

Baca Juga: Bukan Lampu Ajaib, Tapi 'Aladin' yang Jaga Lalu Lintas Nganjuk 24 Jam Nonstop!

          Tentu jebolnya tanggul sungai itu membawa petaka. Salah satu alasan karena debit di aliran Sungai Kuncir itu sedang tinggi-tingginya. Ada peningkatan jumlah debit udara sejak dari Kecamatan Sawahan hingga Kecamatan Nganjuk.

          Lingkungan Kapas langsung terendam banjir dalam hitungan menit. Warga langsung berusaha menyelamatkan barang-barang berharga di dalam rumah. Salah satunya seperti yang dilakukan Sarni, 70, warga Lingkungan/Kelurahan Kapas.

Baca Juga: Cerita Mbah Karmiati: Meraup Cuan Ribuan Rupiah dari Larisnya Layah Warung Penyetan

Perempuan lanjut usia (lansia) itu memilih untuk tinggal di rumah. Padahal lokasi rumah Sarni berada di dekat tanggul sungai yang jebol. “Saya di rumah saja. Takut nanti kalau ada barang-barang yang hayut banjir,” ujarnya.

          Setelah membereskan barang-barang berharga, Sarni memilih untuk tinggal di rumah. Dia hanya duduk-duduk di kursi kayu yang setengahnya sudah terendam. Dia duduk-duduk sambil menonton debit sungai yang malam itu masih naik turun.

Baca Juga: Tragedi Cinta Terlarang: Kalap karena Cemburu, Kekasih Gelap Tewas di Tangan Pasangan

          Sepanjang malam, Sarni ketakutan. Menurutnya banjir yang terjadi malam itu menjadi banjir terparah. Bahkan saking ketakutannya, malam itu, Sarni memilih untuk tidak tidur. Dia memutuskan untuk tetap terjaga hingga banjir benar-benar surut. “Saya sahur dalam keadaan banjir,” tambahnya.

Wakil Bupati Trihandy Cahyo Saputro juga datang ke lokasi banjir. Dia datang didampingi Kalaksa BPBD Sutomo dan Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Ruang Pekerjaan (PUPR) Ony Supriyono. “Pemkab akan melakukan asesmen dan perbaikan tanggul yang jebol,” ujar Handy.

Baca Juga: Nganjuk Punya Sentra Genteng dan Batu Bata di Kaloran dan Betet yang Sudah Eksis Puluhan Tahun

          Banjir beruntung akhirnya mulai surut. Namun tidak dalam hitungan menit. Melainkan dalam hitungan jam. Karena diketahui debit sungai baru mulai turun sekitar pukul 02.00 WIB. Beberapa jam kemudian udara benar-benar surut. Meninggalkan lumpur yang masih harus dibersihkan pada pagi harinya.

          Sementara itu, pada hari yang sama (16/3), sekitar pukul 20.00 WIB, debit sungai di Dam Tanjung juga ikut meningkat. Bahkan udara nyaris meluber hingga membanjiri jalan raya. Penyebabnya karena sampah kayu dan bambu yang kembali menutup aliran udara.

Baca Juga: Nganjuk Punya Genteng dan Batu Bata dari Desa Betet-Kaloran yang Jadi Primadona hingga Luar Kota

          Hingga sekitar pukul 22.00 WIB, BPBD, Dinas Lingkungan Hijau (DLH) Nganjuk, dan dinas PUPR menerjunkan alat berat. Sampah kayu tersebut dievakuasi dalam hitungan menit. Saluran udara di Bendungan Tanjung kembali normal.

 

Editor : rekian
#Kelurahan Kapas #bencana alam #banjir #nganjuk #kecamatan sukomoro #Kabupaten Nganjuk