Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Kisah Supono, Penjaga Perlintasan KA Bungur Nganjuk yang Tersisih Modernisasi Palang Pintu

Novanda Nirwana • Rabu, 1 April 2026 | 05:56 WIB
Petugas perlintasan kereta api di Desa Bungur
Petugas perlintasan kereta api di Desa Bungur

 

RADARNGANJUK.JAWAPOS.COM – Gemuruh kereta api yang membelah Desa Bungur, Kecamatan Sukomoro, Nganjuk, adalah irama harian bagi Supono. Di usianya yang menginjak 61 tahun, pria ini tetap setia berdiri di tepi rel, meski perannya kini mulai terlupakan oleh zaman.

Dedikasi Puluhan Tahun Tanpa Gaji

Sejak pukul 06.00 WIB hingga 17.00 WIB, Supono bergelut dengan terik matahari dan debu jalanan. Misinya sederhana namun vital: memastikan tidak ada nyawa yang melayang di perlintasan kereta api (KA) Desa Bungur.

Dahulu, perlintasan ini adalah titik maut karena tidak memiliki palang pintu resmi. Supono, atas inisiatif pribadi, turun tangan menjadi relawan penjaga perlintasan.

“Dulu belum ada palang pintu. Jadi ya cuma pakai tanda manual biar orang berhenti,” kenang Supono saat ditemui di pos sederhananya.


Nasib Relawan di Tengah Modernisasi

Perubahan besar terjadi dua tahun lalu. Pemerintah membangun palang pintu resmi dengan sistem penjagaan 24 jam. Di satu sisi, ini adalah kabar baik bagi keselamatan warga. Namun di sisi lain, sosok relawan seperti Supono mulai kehilangan "tempat".

Jika dulu ia kerap mendapat santunan atau bantuan saat Lebaran sebagai bentuk terima kasih warga, kini pemasukan itu nyaris hilang. Dulu, menjadi tumpuan utama keselamatan warga, mendapat perhatian sukarela. Sekarang, tersisih oleh sistem penjagaan resmi 24 jam. Dampaknya, tidak ada lagi bantuan rutin atau santunan Lebaran yang ia terima.


Bertahan dari Uang Receh dan Ngojek

Meski sudah ada petugas resmi, naluri Supono untuk menjaga keselamatan orang lain tidak bisa hilang. Ia tetap datang membantu mengawasi arus lalu lintas, terutama saat jam sibuk.

Kini, ia menggantungkan hidup sepenuhnya dari belas kasih pengguna jalan. Penghasilannya pun tak tentu, hari biasa bisa mencapai Rp 35 ribu– Rp 40 ribu per hari. Saat Lebaran, mencapai Rp 70 ribu per hari. Dan sampingan menjadi tukang ojek saat kondisi perlintasan sepi.

“Kalau sepi ya ngojek, biar ada tambahan untuk dapur,” tuturnya lirih.


Pahlawan Tanpa Tanda Jasa di Sukomoro

Bagi Supono, ini bukan sekadar soal mencari materi. Ada kepuasan batin saat melihat pengendara selamat sampai tujuan. Meski raganya mulai dimakan usia dan keberadaannya tergeser teknologi, sosoknya tetap menjadi pengingat tentang kepedulian sosial yang murni di jalur rel Nganjuk.

Editor : rekian
#Desa Bungur #perlintasan KA #palang pintu kereta api #nganjuk #kecamatan sukomoro