RADARNGANJUK.JAWAPOS.COM – Menyeberang pulau dari Kalimantan ke Jawa bukan sekadar perpindahan tugas bagi Firman Hadi Saputra. Menjabat sebagai Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Nganjuk sejak awal 2026, pria kelahiran Palangkaraya ini mengaku mengalami culture shock yang unik, mulai dari urusan dapur hingga urusan meja hijau.
Perjalanan karier Firman di korps adhyaksa sejatinya sudah sangat matang. Ia memulai pengabdian sebagai pegawai kejaksaan pada 2009 dan resmi menyandang status jaksa pada 2016. Belasan tahun waktunya habis berkeliling di wilayah Kalimantan Tengah, termasuk menjabat sebagai Kasi Barang Bukti (BB) di Kejari Katingan selama empat tahun.
Namun, begitu menginjakkan kaki di Kota Angin, kejutan pertama yang menyambutnya justru datang dari tukang galon. Firman sempat terheran-heran dengan selisih harga kebutuhan pokok yang sangat mencolok dibanding daerah asalnya.
“Kaget pertama itu soal harga. Di Kalimantan, tukar galon itu bisa sampai Rp 58 ribu. Di Nganjuk, saya cuma keluar Rp 19 ribu. Saya sampai tanya ke penjualnya, ini tukar galon asli atau isi ulang? Ternyata memang harga segitu,” kenangnya sembari tertawa teringat momen dua bulan pertamanya di Nganjuk.
Tak hanya urusan air minum, harga sayur-mayur yang jauh lebih terjangkau membuat Firman merasa Nganjuk adalah tempat yang sangat nyaman untuk ditinggali. “Nganjuk ini pas. Tidak terlalu sepi, tapi juga tidak seramai kota besar. Saya suka di sini,” imbuh lulusan Fakultas Hukum Universitas Palangkaraya ini.
Baca Juga: Ketua Pengadilan Nganjuk Oki Basuki Rachmat: Nasi Pecel Jadi Menu Wajib setiap Ada Acara
Namun, jika urusan biaya hidup terasa lebih ringan, urusan pekerjaan justru jauh lebih "berat". Firman mengungkapkan adanya perbedaan dinamika perkara yang sangat signifikan antara Kalimantan Tengah dan Nganjuk.
Saat bertugas di Katingan, rata-rata Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) dari kepolisian yang masuk hanya sekitar 7 hingga 8 perkara per bulan. Angka itu melonjak drastis begitu ia duduk di kursi Kasi Pidum Kejari Nganjuk.
Baca Juga: Sering Dihadiahi Es Krim Siswa SD, Iptu Jarwanto Jadi Polisi Idola Anak-anak di Nganjuk
“Kalau di Nganjuk ini luar biasa produktif, bisa 35 sampai 40 perkara masuk setiap bulan. Artinya, intensitas penegakan hukum di sini memang jauh lebih tinggi,” terangnya.
Kini, selain fokus menuntaskan puluhan perkara yang masuk ke mejanya, Firman juga memiliki misi pribadi: menaklukkan kendala bahasa. Meski mulai memahami percakapan sehari-hari, ia mengaku masih angkat tangan jika berhadapan dengan bahasa Jawa halus.
“Kalau bahasa Jawa biasa sedikit-sedikit mengerti. Tapi kalau sudah masuk krama inggil, nah itu saya masih harus banyak belajar,” pungkasnya menutup pembicaraan.