Solikin menjadi penjaga sukarela Simpang Tiga Jalan Kartini Nganjuk. Setiap pagi hingga siang hari, dia berdiri di sana mengatur arus lalu lintas. Hal ini dilakukan karena pertigaan tersebut merupakan lokasi rawan kecelakaan lalu lintas di Kecamatan Kota.
NOVANDA NIRWANA – NGANJUK, JP Radar Nganjuk
“Sering terjadi kecelakaan di sini,” ujar Solikin. Tidak ada traffic light dan polisi yang mengatur lalu lintas membuat pertigaan tersebut menjadi area yang berbahaya. Kendaraan dari arah utara, selatan, dan barat sering saling serobot. Akibatnya, kecelakaan terjadi.
“Pelajar dan ibu-ibu sering jadi korban kecelakaan saat berangkat dan pulang sekolah,” ungkap Solikin. Melihat persoalan tersebut, Solikin memberanikan diri menjadi petugas sukarela yang mengatur arus lalu lintas di sana. Dia berangkat pukul 06.00 WIB. Kemudian, mengatur arus lalu lintas di sana.
Karena sukarela, Solikin tidak pernah meminta pengguna jalan yang melintas memberinya. Tangannya tidak pernah menengadah. Dia hanya memberi isyarat berhenti atau jalan.
Namun demikian, ada pengguna jalan yang memberinya uang. Nominalnya juga tidak besar. Rata-rata hanya Rp 2 ribu. “Sehari itu dapat Rp 10 ribu hingga Rp 50 ribu,” ujarnya.
Bagi bapak satu anak ini, uang bukan yang utama. Dia hanya ingin membantu warga. Bahkan, jika dihitung, uang Rp 10 ribu yang didapat dari mengatur arus lalu lintas itu tidak akan cukup untuk membeli bahan bakar minyak (BBM). Karena rumah Solikin ada di Prambon. Dia harus mengendarai sepeda motor ke Jalan Kartini Nganjuk. “Untuk pulang pergi Prambon-Nganjuk itu habis sekitar Rp 20 ribu,” ujarnya.
Tak hanya itu, risiko lain juga datang dari pengguna jalan sendiri. Tidak semua pengguna jalan yang tidak mematuhi aba-aba darinya. Ada yang menolak berhenti saat diminta. Bahkan tak segan melontarkan kata-kata kasar.
“Kadang dimarahi pengemudi mobil. Disuruh berhenti tidak mau, malah saya dimarahi,” ujarnya.
Meski begitu, Solikin memilih bertahan. Baginya, hal semacam itu sudah menjadi bagian dari risiko membantu orang di jalan. Dia akan tetap membantu sesama. “Saya anggap ibadah saja,” ujarnya. (tyo)
Editor : rekian