Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Arnov Indaramadan, Peternak Gen Z Kota Angin

Novanda Nirwana • Minggu, 10 Mei 2026 | 11:47 WIB
Arnov peternak gen z
Arnov peternak gen z

 

Arnov Indaramadan adalah salah satu peternak Gen Z Kota Angin. Dia memilih terjun ke dunia peternakan setelah lulus SMA. Dia ogah melanjutkan ke bangku kuliah. Ternak sapi jadi pilihan utama. Hasilnya, Arnov punya ratusan ekor sapi. 

 

NOVANDA NIRWANA - NGANJUK, JP Radar Nganjuk

 

“Saya suka merawat sapi sejak kecil,” ujar Arnov. Sejak kecil, Arnov sudah terbiasa dengan memberi makan sapi hingga membersihkan kotoran. Karena Ahmad Mursyid, ayah Arnov adalah peternak sapi

 Lama-kelamaan, rasa suka merawat sapi itu berubah menjadi kebiasaan. Saat menginjak usia 17 tahun, Arnov mulai serius membantu bapaknya. Ia belajar semuanya langsung dari lapangan. Mulai cara memberi pakan, membersihkan kandang, hingga mengenali tanda-tanda penyakit pada ternak. Tidak ada sekolah khusus. Tidak ada teori rumit. Semua dipelajari dari pengalaman.

“Belajar merawat sapi langsung dari bapak,” ujarnya.

Baginya, beternak bukan hanya soal memberi makan lalu menunggu sapi besar. Ada tanggung jawab panjang di baliknya. Terutama ketika ternak mulai sakit.

Salah satu ujian terberat datang saat wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) menyerang ternak beberapa waktu lalu. Hingga sekarang, ancaman itu belum sepenuhnya hilang.

Arnov mengakui, meski vaksin rutin dilakukan, tetap ada sapi yang terkena PMK. Perawatan dilakukan penuh selama satu minggu. Semua kondisi dipantau ketat. Jika sapi menunjukkan perkembangan baik, perawatan terus dilanjutkan. Namun jika kondisinya memburuk, keputusan berat harus diambil.

“Kalau sudah mau mati biasanya disembelih,” katanya.

Keputusan itu bukan tanpa alasan. Mempertahankan sapi yang sudah kritis justru bisa membuat kerugian semakin besar. Meski demikian, Arnov bersyukur selama ini belum pernah ada ternak yang mati akibat PMK.

“Sekarang lebih terkondisikan. PMK lebih bisa direm daripada tahun lalu,” imbuhnya.

Di balik kesibukan kandang, Arnov tetap menjalani kehidupan anak muda seperti biasa. Ia masih nongkrong bersama teman-temannya. Menurutnya, mengurus kandang justru memberi waktu yang fleksibel.

“Waktu ngopi ya tetap ada,” ucapnya sambil tertawa kecil.

Meski begitu, tak semua orang langsung memandang pekerjaannya dengan kagum. Ia pernah diremehkan oleh teman sendiri karena memilih menjadi peternak.

Namun, Arnov memilih tidak ambil pusing. Baginya, pekerjaan tidak harus terlihat keren untuk bisa menghasilkan sesuatu yang besar.

Kini, usaha ternak keluarganya terus berkembang. Saat ini, Arnov memiliki 225 ekor sapi. Menjelang Hari Raya Idul Adha, suasana kandang semakin sibuk. Pesanan sapi mulai berdatangan dari berbagai daerah di Jawa Timur. Mulai Surabaya, Sidoarjo, Gresik hingga Madiun.

Bahkan, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi membeli lima ekor sapi jumbo berbobot lebih dari satu ton dari kandang mereka. “Bulan lalu Wali Kota Surabaya sudah memesan sapi di sini,” pungkasnya. (tyo)

Editor : rekian
#peternak sapi #peternak gen z #generasi z #idul adha