Persoalan remaja yang semakin kompleks membuat Suyanto Cipto Atmojo tergerak mencari solusi. Di tengah kesibukannya sebagai Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Sistem Informasi Keluarga PPKB Nganjuk, pria asal Lamongan itu memilih menulis buku-buku edukasi tentang keluarga dan remaja. Menariknya, sebagian hasil penjualan buku tersebut ia sisihkan untuk beasiswa anak kurang mampu.
NOVANDA NIRWANA - NGANJUK, JP Radar Nganjuk
“Saya ingin berkontribusi untuk mengatasi masalah kependudukan, ” ujar Suyanto Cipto Atmojo, Kabid Pengendalian Penduduk dan Sistem Informasi Keluarga Dinas PPKB Nganjuk.
Sebelum masuk Dinas PPKB pada 2023 lalu, Cipto lebih dulu berkecimpung di dunia kesehatan. Ia pernah menjadi kepala puskesmas di sejumlah wilayah di Nganjuk. Mulai Gondang, Kertosono, Jatikalen, Ngronggot, Patianrowo hingga Pace.
Pengalaman panjang itu membuatnya memahami persoalan masyarakat bukan hanya soal kesehatan fisik. Namun, juga menyangkut pola asuh keluarga, komunikasi orang tua dengan anak hingga problem remaja yang terus berkembang.
Saat mulai bertugas di dinas PPKB, kegelisahan itu semakin terasa. Dia lalu berpikir bagaimana layanan kependudukan bisa lebih dekat dengan anak muda.
“Konsepnya itu remaja bukan hanya menerima, tapi juga punya kesempatan untuk berpikir kritis,” katanya.
Dari situlah lahir buku pertamanya berjudul 'Gerakan Ayah Teladan Indonesia'. Buku tersebut disusun berdasarkan survei terhadap 677 ayah di Kabupaten Nganjuk.
Hasil survei itu menunjukkan banyak ayah mengalami kesulitan membangun komunikasi dengan anak-anak mereka yang memasuki usia remaja.
“Kami lihat rata-rata ayah memiliki persoalan membangun komunikasi dengan anaknya di usia remaja,” ungkapnya.
Alih-alih membuat buku teori yang berat, Cipto memilih menyajikannya dengan bahasa ringan agar mudah dipahami masyarakat.
Setelah buku pertama selesai, ide lain kembali muncul. Ia lalu membuat buku kedua bertajuk Ular Tangga Kehidupan. Buku tersebut memadukan permainan seperti ular tangga dengan pesan edukasi, ruang diskusi hingga refleksi kehidupan untuk para remaja.
Menurutnya, pendekatan interaktif seperti itu lebih mudah diterima remaja dibanding sekadar ceramah.
Kini, Cipto tengah menyelesaikan buku ketiganya berjudul Smart Kids Population. Konsepnya hampir sama dengan buku kedua, namun diperuntukkan bagi anak usia sekolah dasar.
"Saat ini naskah masih diajukan ke percetakan dan ditargetkan mulai dipasarkan akhir Mei mendatang," jelasnya.
Menariknya, semua buku itu ia tulis di sela-sela aktivitas dinas. Tidak ada waktu khusus untuk menulis. Jika ide muncul, ia langsung mencatatnya.
Kadang pagi sebelum kegiatan kantor dimulai. Kadang siang di sela waktu senggang.
“Kalau ide itu muncul ya langsung saya tulis,” katanya.
Dalam satu buku, ia rata-rata membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Mulai menyusun konsep, membuat kerangka tulisan hingga proses pengajuan cetak.
Meski sudah menerbitkan tiga buku, perjuangannya tidak selalu mudah. Tantangan terbesar justru datang setelah buku selesai ditulis. Dukungan branding dan anggaran percetakan masih sangat terbatas.
“Kami tidak cukup anggaran untuk mencetak,” ujarnya.
Karena itu, penjualan buku selama ini masih dilakukan secara sederhana melalui sistem pesanan maupun toko di Shopee.
Dari hasil penjualan tersebut, Cipto memperoleh 20 persen hak penulis. Namun uang itu tidak sepenuhnya ia gunakan sendiri. Justru ia kumpulkan untuk membantu anak-anak yang memiliki semangat sekolah tetapi terkendala biaya.
“Dari 20 persen itu saya dedikasikan untuk anak-anak yang punya semangat sekolah tapi tidak punya anggaran,” tuturnya.
Nominal yang diterima memang belum besar. Terakhir, ia hanya memperoleh sekitar Rp 145 ribu dari hasil penjualan buku. Tetapi bagi Cipto, sekecil apa pun hasilnya tetap memiliki arti jika bisa membantu pendidikan anak lain.
Cipto tetap menyimpan harapan sederhana. Ia ingin remaja kembali gemar membaca, memiliki tujuan hidup yang jelas dan tidak takut berbagi cerita kepada orang tua maupun teman.
“Remaja harus suka membaca, fokus tujuan hidup, dan jangan lupa sharing dengan orang tua atau teman,” pesannya. (tyo)