Ahmad Tarsim menjadi jemaah haji Kabupaten Nganjuk yang meninggal dunia di Tanah Suci. Setelah melaksanakan ibadah haji, tiba-tiba kondisi fisik Tarsim drop. Sayang, meski telah mendapat perawatan intensif di rumah sakit, nyawa Tarsim tidak tertolong. Dia mengembuskan napas terakhirnya pada 31 Mei 2026.
NOVANDA NIRWANA – NGANJUK, JP Radar Nganjuk
“Berangkat haji adalah cita-cita Bapak Tarsim,” ujar Siti Qoiriah, 39, anak bungsu pasangan Tarsim dan Siti Robingatun. Sebenarnya, Tarsim akan berangkat haji pada 2028. Namun, karena usia Tarsim mencapai 86 tahun maka keberangkatannya ke Tanah Suci dipercepat. Tarsim bersama Siti Robingatun berangkat ke Tanah Suci tahun ini.
Sayang, Tarsim tidak bisa pulang ke Kota Angin. Dia meninggal dunia setelah melaksanakan ibadah haji. Sehingga, kemarin, Siti sendirian di Tanah Suci. Dia menunggu jadwal kepulangan ke Tanah Air. Rencananya, rombongan haji Nganjuk pulang ke Kota Angin pada 30 Juni.
Bagi keluarga Tarsim, keberangkatan Tarsim dan istrinya ke Tanah Suci merupakan panggilan. Mereka telah menunggu 13 tahun setelah mendaftar. Saat ada kabar bisa berangkat tahun ini, pelunasan biaya haji, langsung dilakukan. Begitu dapat kabar, langsung kami kejar semua persyaratannya. Waktunya mepet sekali,” kenangnya.
Bahkan, persoalan administrasi sempat membuat keluarga cemas. Terdapat perbedaan satu huruf pada nama Tarsim di dokumen sehingga harus dilakukan perbaikan. Proses itu dikejar hingga batas akhir pendaftaran.
Tarsim berangkat ke Tanah Suci bersama istrinya. Pasangan itu terpaut usia cukup jauh. Tarsim berusia 86 tahun, sedangkan sang istri lebih muda 28 tahun. Keduanya masuk kategori jemaah lanjut usia.
Sebelum berangkat, kondisi kesehatan Tarsim sebenarnya terus dipantau. Ia memiliki riwayat sakit lambung. Dalam beberapa tahun terakhir, penyakit jantung juga sempat mengganggu kesehatannya sehingga rutin menjalani pengobatan. Menjelang keberangkatan, hasil pemeriksaan juga menunjukkan adanya gangguan di paru-paru.
Meski demikian, semangat Tarsim tidak pernah surut. Keluarga bahkan mengaku tidak melihat keluhan berarti selama berada di Arab Saudi. Saat melakukan panggilan video, Tarsim tampak menikmati sarapan dan masih bisa ngobrol dengan keluarga. “Kalau video call itu malah kelihatan enak makannya. Tidak pernah mengeluh sakit,” ujar Siti.
Belakangan, keluarga sebenarnya beberapa kali ingin melakukan panggilan video. Namun selalu ada alasan yang membuat komunikasi tertunda.
“Kami baru tahu ternyata bapak sakit. Katanya memang tidak boleh memberi kabar ke keluarga supaya kami tidak kepikiran di rumah,” ujarnya.
Hari itu menjadi momen terakhir keluarga melihat Tarsim melalui layar telepon genggam. Pagi hari, Tarsim masih sempat sarapan. Namun tidak lama kemudian kondisinya kembali menurun. “Kami dapat kabar bapak drop sekitar pukul 08.00 WIB,” ujarnya.
Sebelumnya, saat hendak melaksanakan tawaf, Tarsim sempat mengeluhkan tubuhnya lemas. Ia kemudian dibawa ke rumah sakit. Sekitar setengah jam setelah menjalani perawatan, kondisinya semakin menurun hingga akhirnya meninggal dunia.
Kabar duka tersebut membuat seluruh anggota keluarga berkumpul di rumah. Mereka menanti proses pemakaman yang dilakukan di Tanah Suci. Hingga larut malam, tak seorang pun beranjak.
“Begitu ada kabar bapak drop, semua langsung kumpul di rumah sini,” ucapnya.
Pemakaman berlangsung sekitar pukul 00.42 WIB. Karena dilakukan di Arab Saudi, keluarga hanya bisa menyaksikan melalui dokumentasi yang dikirimkan dari sana.
Salah satu kalimat yang paling diingat keluarga adalah pesan Tarsim sebelum berangkat ke Tanah Suci. Pesan yang saat itu terdengar sederhana, namun terasa begitu mendalam. “Seandainya tidak pulang, ya pasrah dan ikhlas. Saya pasrah di sana,” begitu pesan Tarsim kepada keluarganya. (tyo)
Editor : rekian