Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Ekonomi & Bisnis Lifestyle Seni & Budaya Opini Khazanah

Mengenal Sri Hanik, Petugas Haji Daerah Perempuan Pertama Kota Angin

Novanda Nirwana • Kamis, 2 Juli 2026 | 17:19 WIB
Sri Hanik, Petugas Haji Daerah Perempuan Pertama Kota Angin
Sri Hanik, Petugas Haji Daerah Perempuan Pertama Kota Angin

 

Sri Hanik adalah guru bahasa Arab di MTsN 5 Nganjuk. Dia menyimpan sebuah mimpi yang tak pernah padam. Bukan sekadar berangkat ke Tanah Suci sebagai jemaah, melainkan menjadi pelayan tamu Allah SWT. Mimpi itu baru benar-benar terwujud tahun ini setelah bertahun-tahun berjuang. 

NOVANDA NIRWANA - NGANJUK, JP Radar Nganjuk

"Saya menganggap jadi petugas haji ini adalau tugas yang mulia," ujar Sri. Tahun ini menjadi sejarah tersendiri. Sri tercatat sebagai petugas haji perempuan pertama asal Kabupaten Nganjuk. Sebelumnya, belum pernah ada perempuan dari Kota Angin yang lolos menjadi petugas haji.
Namun, pencapaian itu bukan datang begitu saja. Perempuan 59 tahun tersebut mengaku telah berkali-kali mengikuti seleksi. Bahkan pada 2023, ia sempat lolos hingga tahap tes tulis sebelum akhirnya gugur saat wawancara.
"Sudah tujuh kali saya gagal. Tahun 2023 juga ikut tes, tapi gagal di wawancara," kenangnya.
Alih-alih menyerah, kegagalan justru menjadi penyemangat. Setiap kali seleksi dibuka, dia kembali mendaftar. Baginya, menjadi petugas haji bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hati.
"Saya memang pengen banget jadi petugas haji. Karena ini tugas yang mulia, tugas yang istimewa," ujarnya.
Pengalaman menunaikan ibadah haji pada 2016 turut menguatkan keinginannya. Saat itu ia merasakan langsung bagaimana beratnya perjalanan ibadah dan betapa pentingnya kehadiran petugas yang siap membantu para jemaah.
Seleksi petugas sendiri dimulai dari tingkat kabupaten sebelum berlanjut ke tahapan berikutnya. Persaingan yang ketat tidak membuatnya gentar.
Menurut Sri, tantangan menjadi petugas memang tidak ringan. Tugas pelayanan berlangsung hampir tanpa mengenal waktu. Mulai mendampingi jemaah, memastikan kebutuhan mereka terpenuhi, hingga membantu saat muncul persoalan di lapangan.
"Memang berat. Tapi kalau dijalani dengan ikhlas, semuanya bisa," katanya.
Keberadaan petugas perempuan, lanjutnya, juga memiliki peran yang sangat penting. Terlebih ketika harus mendampingi jemaah perempuan yang mengalami masalah kesehatan atau persoalan pribadi.
"Kalau ada petugas perempuan kan enak. Misalnya ada jemaah perempuan yang sakit atau butuh bantuan tertentu, lebih nyaman kalau ditangani sesama perempuan. Kalau ke laki-laki kadang ada rasa tidak enaknya," jelasnya.
Meski jumlah petugas perempuan sudah mulai dibuka sejak 2019, porsinya masih terbatas. Tahun ini keterwakilan perempuan mencapai sekitar 35 persen.
"Buat saya, petugas laki-laki maupun perempuan sama saja. Tidak ada bedanya. Artinya kita sejajar dalam melayani jemaah," tegasnya.
Di balik padatnya aktivitas, Sri justru merasakan kebahagiaan yang sulit digambarkan. Ia mendapatkan banyak teman dari berbagai daerah, bahkan bertemu orang-orang dari berbagai negara yang datang dengan tujuan yang sama, beribadah kepada Allah.
"Di sana itu enak banget. Seluruh dunia berkumpul di sana. Banyak teman, banyak pengalaman," katanya.
Ada pula keuntungan lain yang dia rasakan sebagai petugas, seperti kemudahan mobilitas selama menjalankan tugas. Namun, menurutnya, semua itu bukan alasan utama.
Yang paling berharga justru kesempatan melayani para tamu Allah.
Karena itu, jika suatu hari kesempatan kembali datang, Sri Hanik mengaku siap mengabdi lagi.
"Kalau masih diberi kesempatan, saya mau lagi. Tantangannya memang berat, tapi kalau niatnya ikhlas, insyaallah semuanya lancar," pungkasnya. (tyo)

Editor : rekian
#Petugas Haji Daerah #haji nganjuk #jemaah haji