Mahayani sudah masuk lansia. Usianya 65 tahun. Namun, dia tetap semangat berbagi untuk sesama.
NOVANDA NIRWANA – NGANJUK, JP Radar Nganjuk
Tukang becak, ojek, dan warga kurang mampu memenuhi halaman rumah Mahayani di Kelurahan Kauman, Kecamatan Nganjuk setiap Selasa pagi. Karena di rumah itu selalu menjadi tempat singgah untuk mendapatkan sepiring nasi untuk sarapan. Tak ada syarat. Siapa pun boleh datang. Porsi nasi boleh diambil sesuai kebutuhan. Hanya lauk yang dibagikan langsung oleh Mahayani agar semua yang datang, termasuk yang datang belakangan, tetap kebagian.
“Dari awal memang saya bebaskan ambil nasinya. Mau sedikit atau banyak silakan. Tapi lauknya saya yang ambilkan, kasihan kalau yang datang terakhir nanti tidak kebagian,” jelasnya.
Kegiatan berbagi nasi itu sudah dijalani lebih dari dua tahun. Meski berasal dari Surabaya, Mahayani kini menetap di Nganjuk dan menjadikan rumahnya sebagai tempat berbagi rezeki setiap pekan.
Semuanya berawal dari keinginan sederhana. Dia ingin menyediakan makanan bagi mereka yang sehari-hari bekerja keras di jalan, seperti tukang becak, pengemudi ojek online, hingga pemulung.
“Kadang orang kantoran atau anak sekolah juga sering ikut makan disini,” ujarnya.
Pemilihan hari Selasa pun bukan tanpa alasan. Mahayani sebenarnya juga berbagi pada hari Jumat, tetapi dalam bentuk makanan yang dibagikan di tempat lain. Menurutnya, Jumat sudah banyak kegiatan serupa dari berbagai pihak. Sementara itu, Senin dan Kamis sering dimanfaatkan masyarakat untuk berpuasa sunnah.
“Makanya saya pilih hari Selasa. Jumat saya juga berbagi, tapi dibungkus,” ujarnya.
Setiap kali memasak, sekitar 10 kilogram beras diolah menjadi ratusan porsi makanan. Sejak pagi, dapurnya sudah sibuk menyiapkan nasi dan aneka lauk sebelum para penerima mulai berdatangan.
Seluruh biaya kegiatan tersebut berasal dari ketiga anaknya. Mereka bergantian menanggung kebutuhan setiap pekan. Bagi Mahayani, bantuan itu bukan sekadar soal biaya, tetapi juga cara mengajarkan nilai kepedulian kepada anak-anaknya.
“Anak saya tiga. Setiap minggu gantian yang membiayai. Sekalian membiasakan mereka untuk berbagi,” katanya.
Di balik rutinitas itu, pernah muncul keinginan untuk berhenti. Namun niat tersebut tak pernah benar-benar terlaksana. Wajah-wajah yang selalu menunggu membuatnya mengurungkan niat.
“Dulu sempat ingin berhenti. Tapi kok tidak tega. Akhirnya ya diteruskan sampai sekarang," ungkapnya.
Bahkan, ketika Mahayani sedang di Surabaya, ia rela pulang lebih dahulu untuk menyiapkan makanan. Karena lupa memberi pengumuman bahwa pembagian ditiadakan, Mahayani memilih pulang hari itu juga ke Nganjuk agar tetap bisa memasak keesokan harinya.
“Saya lupa kasih tulisan kalau Selasa libur. Akhirnya Senin saya langsung balik ke Nganjuk supaya Selasa tetap bisa masak,” kenangnya.
Bagi Mahayani, kebahagiaan tak selalu datang dari hal besar. Senyum para penerima saat menikmati makanan hangat justru menjadi alasan terkuat untuk terus menyalakan tungku dapurnya setiap Selasa.
“Ada rasa senang kalau melihat orang-orang makan. Itu sudah membuat saya bahagia,” ucapnya. (tyo)