NOVANDA NIRWANA-NGANJUK, JP Radar Nganjuk
Di balik garis polisi yang membentang di rumah Gatot, tangis keluarga tak lagi terbendung. Paling pilu adalah ratapan sang istri, Supriatin, yang baru mengetahui suaminya tewas dibunuh setelah menjalani pemeriksaan polisi.
Sore itu, sekitar pukul 16.30 WIB, Supriatin pulang ke rumah. Wajahnya masih menyimpan harapan bisa bertemu suaminya yang sejak beberapa hari terakhir dikabarkan menghilang.
Ia sama sekali belum mengetahui bahwa pria yang selama ini menjadi teman hidupnya telah meninggal dunia. Namun, setibanya di depan rumah, suasana terasa berbeda. Warga yang sudah berkumpul langsung menghampirinya. Tanpa banyak bicara, mereka menggandeng Supriatin menuju rumah salah seorang tetangga.
Di rumah itulah polisi terlebih dahulu memintai keterangannya. Dengan tenang, Supriatin menjawab setiap pertanyaan penyidik. Ia bercerita apa adanya mengenai aktivitas terakhir sang suami, karena di benaknya Gatot masih dianggap sedang pergi.
Tak lama setelah pemeriksaan selesai, kenyataan pahit itu akhirnya disampaikan kepadanya. Seolah tak percaya, tubuh Supriatin langsung lemas. Tangisnya pecah. Membuat warga yang menyaksikan ikut menitikkan air mata. "Aku gak iso urip tanpa ayah..." ucapnya lirih di sela tangis.
Ratapan itu terus berlanjut. "Aku melu, Yah..." ujarnya, seakan tak sanggup menerima kenyataan bahwa suaminya telah tiada. Tangisnya semakin menjadi saat mengetahui Gatot diduga tewas di tangan anak angkat yang selama ini mereka besarkan. "Aku gak ikhlas, Yah... bojoku dipateni. Aku gak ikhlas..." teriaknya sambil menangis histeris.
Bagi warga sekitar, tragedi itu begitu sulit dipercaya. Sebab, Gatot selama ini dikenal sebagai sosok yang ramah dan mudah bergaul. Salah seorang tetangga dekat korban, Ita Dwi, 46, mengatakan Gatot hampir tidak pernah berselisih dengan warga. Ia dikenal ringan tangan dan sering membantu tetangganya. "Mas Gatot itu orangnya baik. Suka berbaur sama warga," tuturnya.
Di mata tetangga, Gatot juga dikenal sebagai sosok ayah yang bertanggung jawab. Meski Diana hanya anak angkat, kasih sayangnya tidak pernah dibedakan.
Menurut Ita, hampir setiap permintaan Diana selalu dipenuhi. Bila sang anak membutuhkan uang, Gatot berusaha mencarikannya. "Sama anaknya juga baik. Sayang sama anaknya. Kalau minta uang berapa pun sebisa mungkin dikasih," kenangnya.
Tak ada yang menyangka perhatian dan kasih sayang yang selama ini diberikan justru berakhir menjadi tragedi yang merenggut nyawa Gatot. (tyo)