Hadir sebagai Pendengar, Hapus Sekat Dengan Siswa
Di sela kesibukannya memimpin SMAN 2 Nganjuk, Murtoyo masih menyempatkan diri menyapa para siswa saat jam istirahat. Bukan sekadar menanyakan kabar, pria 58 tahun itu sengaja membangun kedekatan agar para siswa tidak sungkan bercerita ketika menghadapi persoalan.
NOVANDA NIRWANA-NGANJUK, JP Radar Nganjuk
Baru enam bulan menjabat sebagai Kepala SMAN 2 Nganjuk, Murtoyo membawa pengalaman panjang. Ayah dua anak tersebut telah lebih dari 10 tahun dipercaya menjadi kepala sekolah di berbagai SMA negeri di Kabupaten Nganjuk. Sebelum memimpin SMAN 2 Nganjuk, ia pernah bertugas di SMAN Kertosono, SMAN Prambon, SMAN Gondang, hingga SMAN Loceret.
Berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain membuatnya memahami bahwa setiap sekolah memiliki karakter siswa yang berbeda.
"Setiap sekolah punya karakteristik sendiri," ujar Murtoyo. Di sekolah perkotaan, ia lebih banyak membekali siswa dengan berbagai jalur masuk perguruan tinggi. Sementara di sekolah pinggiran atau pedesaan, sekitar 50 persen siswanya melanjutkan kuliah, sedangkan sisanya memilih bekerja.
Pengalaman berpindah sekolah itulah yang membentuk cara pandangnya dalam memimpin. Baginya, keberhasilan seorang kepala sekolah bukan hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga bagaimana mampu menjalankan program pemerintah secara nyata. Selama satu dekade menjadi kepala sekolah, Murtoyo mengaku lebih banyak merasakan suka daripada duka. "Saya senang ketika program pemerintah bisa diwujudkan dengan langkah nyata. Tapi semua itu tidak bisa dilakukan sendiri, harus dengan kerja tim," kata pria asal Rejoso itu.
Di tengah maraknya persoalan kenakalan remaja, Murtoyo memilih meninggalkan pola kepemimpinan yang berjarak dengan siswa. Ia menerapkan pendekatan emosional agar siswa merasa nyaman. Menurutnya, tidak ada lagi zamannya kepala sekolah hanya dikenal sebagai sosok yang ditakuti. Kepala sekolah harus hadir sebagai pendengar sekaligus pembimbing bagi anak didik. "Kalau saya lebih condong menggunakan pendekatan emosional kepada anak. Permasalahannya mungkin sama, tetapi setiap anak berbeda sehingga penanganannya juga berbeda," jelasnya.
Karena itu, ia memanfaatkan momen sederhana, seperti bertemu di koridor atau saat jam istirahat, untuk mengajak siswa berbincang ringan. Percakapan itu sering kali menjadi pintu masuk bagi siswa untuk terbuka mengenai persoalan yang dihadapi. "Dengan cara seperti itu anak-anak menjadi lebih terbuka. Mereka merasa diperhatikan sehingga kalau ada masalah tidak sungkan untuk bercerita," tuturnya.
Filosofi sederhana tersebut kini terus ia terapkan di SMAN 2 Nganjuk. Murtoyo berharap sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi setiap siswa untuk tumbuh, berkembang, dan meraih cita-citanya. Baginya, sekolah adalah tempat pulang bagi para siswa, dan ia ingin menjadi pemimpin yang membuat mereka merasa selalu dirindukan. (rq)