Beri Dua BMW kepada Siswa Smakom
ENDANG Warniati resmi menjabat sebagai Kepala SMAN 1 Sukomoro sekitar delapan bulan lalu.
Sejak dipercaya memimpin sekolah tersebut, Endang langsung melakukan berbagai inovasi.
Salah satu fokusnya adalah menyiapkan siswa agar tidak hanya berprestasi di bangku sekolah, tetapi juga siap menghadapi dunia kerja maupun berwirausaha setelah lulus.
Luncurkan Program Dua BMW
Menurut Endang, ada dua program unggulan yang kini diterapkan di SMAN 1 Sukomoro.
Program itu diberi nama BMW.
BMW pertama adalah Bakat Minat Wawasan, sedangkan BMW kedua merupakan singkatan dari Bekerja, Melanjutkan, Wirausaha.
"Dua BMW ini yang akan digunakan untuk mengarahkan para siswa setelah lulus SMA," ujarnya kepada wartawan koran ini.
Asah Bakat dan Persiapkan Kuliah
Endang menjelaskan, program Bakat Minat Wawasan memiliki cakupan yang luas.
Tujuan utamanya adalah mengembangkan potensi siswa, baik di bidang akademik maupun nonakademik.
Selain itu, program tersebut juga dirancang untuk mempersiapkan siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Bekali Keterampilan Berwirausaha
Sementara itu, program Bekerja, Melanjutkan, Wirausaha difokuskan pada pembekalan keterampilan nonakademik.
Caranya melalui berbagai pelatihan yang berkaitan dengan kebutuhan dunia kerja dan usaha.
Di SMAN 1 Sukomoro, sedikitnya sudah ada tiga bidang keterampilan yang diajarkan kepada siswa.
Yakni membuat shuttlecock, potong rambut, dan menjahit.
"Pemilihan tiga usaha itu berkaitan dengan sumber daya dan prospek di dunia kerja saat ini," tambah ibu empat anak tersebut.
Siapkan Siswa Lebih Mandiri
Endang menuturkan, sekolah tidak boleh hanya berperan sebagai tempat belajar selama siswa masih duduk di bangku pendidikan.
Menurutnya, sekolah juga harus membekali peserta didik agar siap menghadapi kehidupan setelah lulus.
Harapannya, para lulusan SMAN 1 Sukomoro dapat menjadi pribadi yang mandiri, baik dengan melanjutkan pendidikan, bekerja, maupun membuka usaha sendiri.
"Program itu muncul karena ternyata banyak siswa yang belum bisa melanjutkan ke pendidikan jenjang berikutnya. Banyak dari mereka yang akhirnya harus bekerja," pungkasnya.
(wib/tyo)