Pemimpin di Sekolah, Jadi Ibu saat di Rumah
Atik Qura'atul Aini adalah Kepala SMKN 1 Tanjunganom. Dia harus bisa menjalankan peran ganda dengan baik. Yaitu, menjadi kepala sekolah dan seorang ibu.
Jarum jam baru menunjukkan pukul 06.00 WIB. Atik sudah meninggalkan rumahnya di Kelurahan Mangundikaran, Kecamatan Nganjuk. Perjalanan menuju SMKN 1 Tanjunganom membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Lebih jauh dibandingkan saat dirinya masih mengajar di SMK Kosgoro yang hanya berjarak lima menit dari rumah.
Rutinitas itu telah dijalani sejak April 2026, setelah perempuan 50 tahun tersebut dipercaya menjadi Kepala SMKN 1 Tanjunganom. Jabatan baru itu membawa tanggung jawab yang jauh lebih besar dibandingkan saat masih menjadi guru.
“Kalau dulu sebagai anggota, sekarang sebagai pimpinan jadi harus tahu semuanya,” ujarnya.
Perubahan peran itu membuat Atik harus cepat beradaptasi. Tidak hanya mengurus administrasi sekolah, tetapi juga memastikan seluruh unsur sekolah berjalan beriringan. Baginya, seorang kepala sekolah tidak cukup hanya memberi instruksi, tetapi juga harus menjadi teladan bagi guru maupun siswa.
Karena itu, setiap pagi sebelum aktivitas belajar dimulai, Atik memiliki kebiasaan berkeliling lingkungan sekolah. Ia menyapa para siswa satu per satu, menanyakan kabar, hingga berbincang santai.
Dari kebiasaan sederhana itu, hubungan yang awalnya terasa formal berubah menjadi lebih akrab. Banyak siswa yang akhirnya tidak sungkan menceritakan persoalan yang mereka hadapi, baik tentang pelajaran maupun kehidupan sehari-hari.
“Saya ingin mereka merasa dekat, tidak ada jarak antara kepala sekolah dengan siswa. Kalau mereka punya masalah, mereka mau cerita,” ungkapnya.
Pendekatan itu juga diterapkan kepada para guru. Menurut Atik, sekolah akan berkembang apabila seluruh warga sekolah merasa menjadi bagian dari satu tim yang saling mendukung. Karena itu, ia berusaha merangkul semua pihak agar tercipta suasana kerja yang nyaman.
Kepeduliannya terhadap lingkungan sekolah juga diwujudkan melalui kegiatan sederhana. Setiap pagi ia mengecek kebersihan sekolah. Namun, Atik tidak hanya mengawasi. Ia juga ikut memberi contoh secara langsung ketika menemukan hal yang perlu dibenahi.
“Bukan hanya mengecek, tetapi kami juga ikut memberikan contoh,” katanya.
Menurutnya, keteladanan jauh lebih efektif daripada sekadar memberi perintah. Dengan melihat pimpinan ikut turun tangan, guru maupun siswa akan terdorong melakukan hal yang sama.
Di balik kesibukannya memimpin sekolah, Atik tetap menjalankan peran sebagai seorang ibu. Ia memiliki dua orang anak yang tetap menjadi prioritas sebelum berangkat bekerja.
Setiap pagi, ia harus memastikan berbagai kebutuhan keluarga telah dipersiapkan terlebih dahulu. Setelah semuanya beres, barulah ia memulai perjalanan menuju sekolah.
“Harus pintar membagi waktu. Apalagi sebagai ibu, pagi harus menyiapkan kebutuhan anak-anak dulu, baru berangkat kerja,” jelas Atik.
Baginya, menjadi kepala sekolah bukan hanya soal memimpin lembaga pendidikan, tetapi juga menjaga keseimbangan antara tanggung jawab sebagai pemimpin di sekolah dan sebagai ibu di rumah. (tyo)