Nggandol Truk dari Garut ke Nganjuk
Perjuangan Aang Agusmawan, pedagang bendera Merah Putih dan umbul-umbul sangat keras. Agar bisa berjualan di Nganjuk, bapak tiga anak ini harus menempuh perjalanan darat sekitar 544 kilometer. Ironisnya, dia tidak punya uang untuk membeli tiket kereta api atau karcis bus.
NOVANDA NIRWANA - NGANJUK, JP Radar Nganjuk
“Saya dan teman-teman itu nggandol truk ke Nganjuk,” ujar Aang Agusmawan. Cara tersebut dilakukan untuk menghemat pengeluaran. Karena dia hanya membawa bendera dan umbul-umbul dari juragan di Garut. Aang tidak kulakan. Hanya mengambil keuntungan dari penjualan. Jika tidak laku, maka bendera dan umbul-umbul akan dikembali ke juragan.
Bagi Aang, Kota Angin merupakan kota yang menjanjikan setiap Agustusan. Tahun ini adalah tahun keempat, dia berjualan bendera dan umbul-umbul. Biasanya, dia mendapat keuntungan ratusan ribu setiap hari.
Namun, hal itu tidak terjadi saat ini. Pria asal Garut itu duduk termenung di lapaknya di tepi Jalan Diponegoro, Kelurahan Mangundikaran, Kabupaten Nganjuk. Tatapannya sesekali mengarah kepada pengendara yang melintas. Beberapa bendera dan umbul-umbul terpajang rapi, menunggu pembeli yang datang.
Empat tahun sudah Aang menjadikan tempat itu sebagai tempat mencari rezeki setiap Agustus. “Sekarang sepi. Kalah sama yang jualan online,” ujarnya.
Perubahan kebiasaan masyarakat dalam berbelanja menjadi tantangan tersendiri. Sebelum membeli, calon pembeli biasanya membandingkan harga barang di lapaknya dengan harga yang ditawarkan toko online.
Aang mengambil stok bendera dari agen. Keuntungan yang didapat sekitar 10 persen dari harga satuan. Barang yang dijual beragam. Mulai bendera kecil seharga Rp 20 ribu hingga atribut berukuran besar yang dibanderol Rp 250 ribu.
Namun, keuntungan itu tidak selalu banyak. Ketika harga pesaing semakin rendah, Aang terpaksa menyesuaikan harga jual. Margin yang didapat pun semakin tipis.“Keuntungannya ya makin sedikit. Harganya makin turun karena saingannya,” katanya.
Dalam kondisi sepi, mendapatkan Rp 100 ribu dalam sehari sudah menjadi hal yang patut disyukuri. Bahkan, beberapa hari terakhir, pemasukan dari lapak tidak mampu menutup kebutuhan sehari-hari. “Tiga hari jualan tidak dapat uang sama sekali,” keluhnya.
Meski begitu, Aang tidak serta-merta meninggalkan lapaknya. Ada keluarga yang menunggu hasil jerih payahnya. Aang dan rekan-rekannya berjualan hingga 17 Agustus. Lapak dibuka sejak pagi dan ditutup menjelang magrib. Setelah itu, mereka akan kembali ke Garut dan menjalani pekerjaan masing-masing.
Bagi Aang, berjualan bendera bukan pekerjaan utama. Ketika tidak menunjukkan bulan Agustus, dia kembali menjadi tukang bangunan. Namun, setiap memasuki musim kemerdekaan, dia mencoba peruntungan dengan menjajakan bendera.
Nganjuk menjadi pilihannya karena persaingan antarpedagang dinilai tidak terlalu ketat dibandingkan daerah lain. Biaya hidup yang relatif murah juga membuatnya merasa nyaman selama berada di Kota Angin. “Semoga dagangan saya laris,” ujarnya. (tyo)