RADARNGANJUK.JAWAPOS.COM- Menjadi kepala sekolah selama enam tahun tak membuat Pujianto betah berlama-lama duduk di balik meja. Baginya, memimpin sekolah bukan sekadar mengurus administrasi atau memberikan arahan dari ruang kepala sekolah. Dia justru merasa lebih nyaman ketika bisa turun langsung dan terlibat bersama guru dan siswa.
Prinsip terjun langsung dibawa Pujianto saat memimpin SMAN 3 Nganjuk. Sebelum dipercaya menjadi kepala SMAN 3 Nganjuk, Pujianto lebih dulu mendapat tugas sebagai kepala sekolah melalui promosi di SMAN 1 Patianrowo.
Baca Juga: Susunan Upacara Hari Pramuka 14 Agustus 2026 Lengkap, Bisa Jadi Panduan di Sekolah dan Gugus Depan
Selama sekitar 4,5 tahun ia memimpin sekolah tersebut sebelum kemudian berpindah tugas ke SMAN 3 Nganjuk.
“Saya dasarnya orang lapangan. Kalau disuruh diam di belakang meja, ya tidak bisa. Harus ikut terjun langsung ke lapangan,” ujar Pujianto.
Kebiasaan tersebut tidak ditinggalkannya setelah menjadi kepala sekolah. Justru, ia menjadikan keterlibatan langsung sebagai cara untuk memahami kondisi sekolah secara lebih utuh.
Baca Juga: Tersendat Biaya dan Pajak, Layanan Bioskop Keliling Nganjuk untuk Sekolah Semakin Suram
Menurutnya, seorang kepala sekolah tidak cukup hanya mengetahui laporan atau menerima informasi dari guru. Ada kalanya persoalan justru terlihat ketika berada di tengah-tengah aktivitas siswa.
“Saya lebih senang kalau bisa terlibat secara langsung. Sama seperti memimpin sekolah, saya ingin tahu kondisi di lapangan,” ucapnya.
Baca Juga: Gedung Belum Rampung, KBM Sekolah Rakyat Nganjuk Belum Bisa Dimulai
Salah satu pengalaman yang masih diingatnya adalah ketika SMAN 3 Nganjuk dipercaya menjadi pilot project sekolah inovasi ketahanan pangan. Program tersebut tidak hanya dia pantau dari jauh. Pujianto ikut turun menanam bersama siswa.
Begitu pula ketika ada kegiatan bersih-bersih lingkungan sekolah. Ia memilih ikut memegang peralatan kebersihan dan bekerja bersama para siswa.
Baca Juga: Gedung Belum Rampung, KBM Sekolah Rakyat Nganjuk Belum Bisa Dimulai
Bagi Pujianto, aktivitas sederhana semacam itu justru menjadi ruang untuk membangun kedekatan. Batas antara kepala sekolah dan siswa tetap ada dalam hal kedisiplinan maupun tanggung jawab.
Namun, ia tidak ingin menciptakan jarak yang membuat siswa merasa sungkan untuk berkomunikasi. “Kalau seperti itu bisa lebih dekat juga dengan siswa. Sehingga permasalahan mereka kita bisa tahu lebih dulu,” ujarnya.
Baca Juga: Akhir Bulan Sekolah Rakyat Harus Mulai KBM
Kedekatan tersebut bahkan berlanjut dalam keseharian. Saat jam istirahat, Pujianto tak jarang menghabiskan waktu dengan nongkrong bersama siswa.
Ia mengikuti obrolan dan aktivitas mereka, termasuk menyesuaikan diri dengan karakter generasi yang jauh lebih muda darinya.
“Sering nongkrong sama siswa kalau jam istirahat. Berhubung mereka yang lebih muda, ya saya yang mengikuti mereka,” ujarnya.
Menurut dia, menjadi dekat dengan siswa bukan berarti kehilangan kewibawaan sebagai kepala sekolah. Sebaliknya, kedekatan justru dapat menjadi cara untuk membangun komunikasi yang lebih terbuka.
Baca Juga: Dilema Libur Panjang: Sekolah di Nganjuk Waswas Penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) Jalan Terus
Pujianto mengaku tidak pernah membatasi jarak dengan para siswa. Ia ingin mereka memiliki ruang untuk menyampaikan cerita, keluhan, maupun persoalan yang sedang dihadapi.
“Saya tidak pernah membatasi jarak dengan mereka,” tegasnya.
Enam tahun menjadi kepala sekolah akhirnya tidak hanya menjadi perjalanan tentang memimpin dari ruang kerja.
Baca Juga: Mengenal Mariati, Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Nganjuk
Turun ke lapangan, ikut bekerja bersama, hingga sekadar berbincang saat jam istirahat menjadi caranya menjaga agar sekolah tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi juga hidup melalui hubungan antara kepala sekolah dengan siswa.
Editor : rekian