Mengenal Kepala SMPN 3 Nganjuk Budi Setia Darmawan, Bisa Mengajar Semua Mata Pelajaran

Novanda Nirwana • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:16 WIB
KELILING KELAS: Kepala SMPN 3 Nganjuk Budi Setia Darmawan selalu mengecek kelas. (novanda nirwana/ jprk)
KELILING KELAS: Kepala SMPN 3 Nganjuk Budi Setia Darmawan selalu mengecek kelas. (novanda nirwana/ jprk)

NGANJUK, RADARNGANJUK.JAWAPOS.COM- Menjadi Kepala Sekolah tidak harus selalu berada di ruang kerja. Bagi Kepala SMPN 3 Nganjuk Budi Setia Darmawan, memimpin sekolah justru berarti harus dekat dengan siswa. Karena itu, hampir setiap hari dia berkeliling dari satu kelas ke kelas lainnya. Saat ada kelas kosong, Budi langsung menjadi guru di kelas itu.

Budi Setia Darmawan selalu keliling kelas setiap hari. Kepala SMPN 3 Nganjuk berusia 54 tahun tersebut ingin mengetahui secara langsung kondisi yang dihadapi siswanya.

Mulai dari kendala dalam proses pembelajaran, kondisi ruang kelas hingga berbagai persoalan yang terkadang tidak tersampaikan melalui jalur formal. 

Baca Juga: SMPN 1 Berbek Berprestasi! Jadi Perwakilan Kabupaten Nganjuk untuk Sekolah Adiwiyata Nasional

“Sebagai kepala sekolah tentu saja saya tidak hanya sekadar diam, tetapi ikut andil juga dalam pendekatan siswa,” ujarnya.

Cara tersebut membuat Budi semakin mengenal karakter siswa. Tak jarang, ketika ada guru yang berhalangan hadir, dia turun langsung menggantikan mengajar. Baginya, tidak ada alasan untuk membiarkan siswa tanpa kegiatan belajar.

“Kalau guru tidak ada ya saya gantikan ngajar. Semua pelajaran saya bisa asalkan ada bukunya,” paparnya.

Baca Juga: Susunan Upacara Hari Pramuka 14 Agustus 2026 Lengkap, Bisa Jadi Panduan di Sekolah dan Gugus Depan

Dari kebiasaan itulah kedekatan dengan siswa terbentuk. Mereka tak lagi sungkan menyampaikan berbagai persoalan kepada kepala sekolah. Bahkan, keluhan yang disampaikan siswa menjadi bahan evaluasi bagi Budi untuk melakukan pembenahan di sekolah.

“Setiap permasalahan mereka curhat ke saya. Seperti, cara mengajar guru yang tidak cocok hingga ruangan yang panas,” jelasnya.

Baca Juga: Tersendat Biaya dan Pajak, Layanan Bioskop Keliling Nganjuk untuk Sekolah Semakin Suram

Budi dipercaya menjadi kepala sekolah sejak 2022. Sebelum memimpin SMPN 3 Nganjuk, dia sempat bertugas di SMPN 5 Kertosono sekitar satu tahun. Setelah itu, dia melanjutkan tugas di SMPN 2 Baron selama dua tahun.

Kini, sekitar satu tahun terakhir Budi memimpin SMPN 3 Nganjuk. Berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain membuatnya memahami bahwa setiap sekolah memiliki karakteristik masing-masing. “Setiap sekolah tentunya memiliki karakteristik yang berbeda-beda,” ujarnya.

Baca Juga: Gedung Belum Rampung, KBM Sekolah Rakyat Nganjuk Belum Bisa Dimulai

Karena itu, Budi tidak ingin menerapkan pola kepemimpinan secara seragam. Dia memilih melihat terlebih dahulu kondisi sekolah, kemudian menentukan program yang sesuai. Salah satu hal yang menjadi perhatian utama di SMPN 3 Nganjuk adalah kedisiplinan.

Kedisiplinan tersebut tidak hanya diterapkan melalui aturan, tetapi juga dibangun lewat berbagai program pembiasaan siswa. Setiap hari terdapat kegiatan khusus yang dirancang untuk membentuk karakter dan kebiasaan positif.

Baca Juga: Akhir Bulan Sekolah Rakyat Harus Mulai KBM

Salah satunya adalah program Kamis Jawa. Setiap Kamis, siswa memakai pakaian adat Jawa. Tidak berhenti pada pakaian, mereka juga diwajibkan menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi. Para guru pun ikut menerapkan kebiasaan tersebut.

Menurut Budi, program tersebut menjadi salah satu upaya sekolah untuk mengenalkan sekaligus menjaga budaya Jawa di kalangan pelajar. Namun, penerapannya tetap disesuaikan dengan kondisi pembelajaran. “Selain menggunakan baju adat Jawa, siswa juga harus berbahasa Jawa. Guru-gurunya juga ikut berbahasa Jawa. Tetapi ada catatan, selama proses belajar mengajar tetap disesuaikan,” terangnya.

Baca Juga: Dugaan Skandal Pengadaan Sepatu Sekolah Rakyat: KPK Mulai Bidik Kemensos

Bagi Budi, kedisiplinan dan kedekatan dengan siswa merupakan dua hal yang harus berjalan beriringan. Aturan sekolah tetap harus ditegakkan, tetapi siswa juga perlu merasa memiliki ruang untuk menyampaikan persoalan mereka. Karena itu, langkahnya berkeliling kelas bukan sekadar rutinitas.

Dari ruang kelas, dia bisa melihat langsung bagaimana suasana belajar, mendengar keluhan siswa, sekaligus mengetahui kebutuhan mereka. 

Editor : rekian
smpn 5 kertosono Budi Setia Darmawan Kepala SMPN 3 SMPN 3 Nganjuk SMPN 2 Baron Kabupaten Nganjuk